ASAL USUL NAMA MADIUN
Sultan Trenggono adalah Sultan Demak ketiga, sekaligus juga yang terakhir. Beliau mangkat pada tahun 1546 di medan perang dalam usahanya menaklukkan daerah Pasuruan di Jawa Timur. Peristiwa tersebut membawa akibat timbulnya perang saudara antar keturunan daerah Demak untuk memperebutkan tahta kerajaan.
Sultan Prawata, putra sulung Sultan Trenggono gugur dalam perebutan tahta itu. Tinggallah Pangeran Hadiri dan Pangeran Adiwijaya. Keduanya sama-sama menantu dari Sultan Trenggono. Yang keluar sebagai pemenangnya adalah Pangeran Adiwijaya.
Atas restu Sunan Kudus, Pangeran Adiwijaya ditetapkan sebagai Sultan dan menetapkan Pajang sebagai pusat kerajaan. Bersamaan dengan penobatan Sultan Adiwijaya, dilantik pula adik ipar sultan, yaitu putra bungsu Sultan Trenggonoyang bernama Pangeran Timur sebagai Bupati di Purabaya yang sekarang disebut Kabupaten Madiun.
Setelah Pangeran Adiwijaya mangkat karena usianya yang sudah tua, pusat pemerintahan berpindah ke Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Danang Sutowijoyo atau yang lebih populer disebut Panembahan Senopati. Ia adalah putra sulung Pangeran Adiwijaya. Konon, Panembahan Senopati berwajah tampan, kemauannya keras dan pandai berperang. Sebagai seorang raja besar, Panembahan Senopati bercita-cita hendak menaklukkan para bupati di seluruh Tanah Jawa di bawah panji-panji Mataram.
Terkisahlah Pangeran Timur setelah menjadi bupati di Purabaya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya aman dan makmur. Ia disenangi oleh para bupati di Jawa Timur. Dalam memerintah, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Ronggo Jumenoatau panembahan Mediyun. Dari kata Panembahan yang berasal dari kata adsar sembah sudah jelas bahwa Pangeran Timur memiliki kedudukan yang lebih dibanding para bupati yang lain karena kepadanya orang menghaturkan sembah. Mungkin karena Pangeran Timur masih keturunan Raja Demak Bintoro.
Beberapa bupati yang bersekutu dengan Pangeran Timur di Purabaya yang tidka tunduk pada kekuasaan Mataram adalah Surabaya, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono, Ngrowo (Tulungagung), Blitar, Trenggalek, Tulung (Caruban), dan Jogorogo.
Panembahan Senopati pernah menyerang Purabaya dua kali, namun gagal. Dalam penyerangannya yang ketiga, Panembahan Senopati mengambil langkah-langkah yang menyangkut siasat dan strategi. Para prajurit dibekali dengan kemampuan dan keterampilan dalam mempergunakan senjata (keris, pedang, tombak, panah) dan ketangkasan menunggang kuda serta mengendalikan kuda.
Pasukan Panembahan Sneopati dibagi menjadi pasukan inti dan pasukan kelas dua. Untuk mengecoh lawan, pasukan kelas dua dilengkapi dengan segala atribut kebesaran perang: genderang, panji-panji, dan umbul-umbul. Pasukan ini tugasnya mengepung Purabaya dan datang dari arah yang berlawanan.
Dalam penyarangan yang dijalankan oleh Panembahan Senopati dibantu oleh dua orang penasihat ahli perang, yaitu Ki Juru Mertani dan Ki Panjawi.
Siasat pertama yang dijalankan oleh Panembahan Senopati adalah mengutus seorang istri/selirnya yang amat dikasihinya untuk berpura-pura tunduka pada pemerintahan Pangeran Timur di Purabaya. Tentulah Pangeran Timur bergirang hati. Diterimanya tanda tunduk dari Mataram. Melihat peristiwa itu, beberapa bupati yang menjadi sekutu Purabaya lengkap dengan prajuritnya yang telah lama bersiaga di Purabaya mulai pulang ke daerah masing-masing. Kabupaten Purabaya dinyatakan dalam keadaan aman dan tenang oleh Pangeran Timur.
Dalam suasana seperti itu, prajurit sandi Mataram segera menghadap Panembahan Senopati di Mataram. Akhirnya dengan pertimbangan yang masak, Panembahan Senopati memimpin prajurit Mataram untuk menyerang Kabupaten Purabaya dari berbagai arah.
Mendapat serangan tiba-tiba dari Mataram, Raden Ayu Retno Jumilah segera mengangkat senjata memimpin para prajurit Purabaya untuk melawan prajurit Mataram, ia masih putri Pangeran Timur. Purabaya yang telah ditinggalkan oleh para sekutunya menghadapi serbuan Panembahan Senopati dipertahankan sepenuhnya oleh pasukan sendiri, itupun yang mereka lawan adalah pasukan kelas dua.
Tanpa mendapat perlawanan yang berarti, pasukan inti Mataram segera menyerbu pusat pertahanan terakhir yang berada di kompleks istana Kabupaten Purabaya. Pasukan pertama bertugas melindungi keluarga dan istana. Mereka bertempur dengan gagah berani melawan pasukan inti Mataram. Pertempuran yang sangat sengit itu terjadi di sekitar sendang di dalam kompleks istana.
Kabupaten Purabaya akhirnya runtuh pada tahun 1590. Untuk mengenang peristiwa itu, Panembahan Senopati mengubah nama Purabaya menjadi Mbedi Ayun (Mbedi = mbeji = beji dalam bahasa Jawa berarti sendang. Ayun berarti depan atau dapat juga berarti perang. Mbedi Ayun berarti perang di sekitar sendang). Kata Mbedi Ayun akhirnya mengalami perubahan ucapan menjadi Mbediyun, kemudian berubah lagi menjadi Mediyun dan yang terahir adalah Madiun. Konon perang besar itu berakhir pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi, sekaligus ditandai sebagai penggantian nama Purabaya menjadi Madiun.
Wiratmoko, Y.P.B. 2005. Cerita rakyat Dari Madiun (Jawa Timur). Jakarta: PT. Grasindo.
Rabu, 09 Juni 2010
Selasa, 06 April 2010
HUBUNGAN BENTUK DAN MAKNA DALAM BAHASA INDONESIA KATEGORI HOMONIMI, HIPONIMI, METONIMIA: SEMANTIK BAHASA INDONESIA
Ayu Ardiyanti Rifai
IKIP PGRI Madiun
A. Pendahuluan
Bahasa merupakan hal yang tidak pernah lepas kehidupan manusia. Bahasa mempunyai peran yang penting bagi manusia, selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga digunakan untuk menjalankan setiap aktivitas manusia dalam berbagai bidang. Membahas tentang bahasa sebagai alat komunikasi, maka tidak akan bisa lepas dari kajian semantik. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna kata atau makna bahasa.
Ilmu linguistik mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan tersusun secara sistematis. Lambang-lambang yang digunakan sebagai bahasa tersebut harus bisa didengar dan diucapkan. Setiap lambang bahasa mempunyai makna tertentu, dan lambang-lambang tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi antar manusia.
Bahasa terdiri dari satuan-satuan bahasa yang disusun secara sistematis. Satuan-satuan bahasa tersebut mengandung komponen makna yang kompleks. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perhubungan yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainya. Para ahli semantik telah mengklasifikasikan perhubungan makna itu dalam berbagai kategori, seperti sinonimi, antonimi, polisemi, hiponimi, homonimi, metonimia. Makalah sederhana ini berisi pembahasan tentang hubungan bentuk dan makna dalam telaah semantik bahasa Indonesia. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori, yaitu homonimi, hopinimi, dan metonimia.
B. Pembahasan
1. Homonimi
a. Hakikat Homonimi
Homonini secara etimologi berasal dari kata homos yang artinya sejenis dan onoma atau kata, dalam ilmu bahasa mempunyai arti kata-kata yang sama bunyinya tetapi mempunyai arti dan pengertian yang berbeda (H.G. Tarigan, 1990:30). Wijana dan M. Rohmadi (2008:55) menyatakan bahwa homonimi adalah dua kata atau lebih yang secara kebetulan memiliki pola bunyi yang sama. Secara semantik, Verhaal memberi definisi hominimi sebagai ungkapan (berupa kata atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan (berupa kata, farsa, atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama (Abdul Chaer, 1990:97).
Kata-kata yang berhomonim dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu homonim yang homografi, homofoni, dan homografi dan homofoni. Homonimi yang homografi kesamaannya terletak pada keidentikan ortografi (tulisan dan ejaan), contohnya kata teras (lantai depan rumah) dan tẽras (pejabat tinggi). Sedangkan homonimi yang homofoni kesamaanya terdapat pada keidentikan bunyi dan pengucapan, misalnya pada kata sanksi (hukuman) dan sangsi (ragu). Homonimi yang homofoni dan homografi adalah homonimi yang kesamaannya terletak pada ortografi dan pengucapan, contohnya seperti pada kata bisa (dapat) dan bisa (racun); buku (kitab) dan buku (sendi); karang (batu) dan karang (menulis), dsb. Menurut Allan dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008,57) homonimi yang mempunyai kesaman pada ortografi dan pengucapan disebut sebagai homonimi komplet.
b. Sebab Terbentuknya Hominimi
Homonimi terbentuk karena beberapa faktor, selain karena memang ada dua pasangan leksem atau lebih yang kebetulan punya makna atau bentuk yang sama (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:57). Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1). Proses afiksasi;
Merupakan proses penambahan afiks pada bentuk dasar untuk membentuk kata yang lebih kompleks. Hal tersebut bisa menyebabkan terjadi pembentukan homonimi, seperti dalam contoh berikut ini:
a). ber + uang = beruang (memiliki uang)
ber + ruang = beruang (tempat yang memiliki ruang)
beruang = beruang (binatang)
b). me (N) + karang = mengarang (menjadi batu karang)
me (N) + karang = mengarang (membuat tulisan)
me (N) + arang = mengarang (menjadi arang)
2). Masuknya kata-kata baru dalam kosakata bahasa Indonesia;
Bahasa adalah sesuatu yang hidup dan digunakan oleh manusia atau masyarakat penutur, sehingga bahasa akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan manusia. perkembangan bahasa tersebut berkaitan dengan pengambilan dan pemungutan konsep-konsep baru untuk keperluan berbagai macam aspek kehidupan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Bahasa Indonesia dalam proses perkembangannya banyak memungut dari kosa kata asing yang disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia (melalui proses adaptasi). Hal tersebut juga bisa mejadi penyebab pembentukan homonimi, misalnya seperti dalam contoh berikut ini:
a). Boek (bahasa Belanda) → buku (kitab; lembaran kertas yang
dijilid)
Buku (bahasa Indonesia) → buku (ruas-ruas)
b). Copy (bahasa Inggris) → kopi (tiruan; hasil cetakan yang
mirip aslinya)
Kopi (bahasa Indonesia) → kopi (biji-bijian yang diolah
menjadi minuman)
3). Proses penyingkatan dan pengakroniman;
a). Penyingkatan adalah proses pemendekatan bentuk yang dianggap panjang dengan cara penggabungan huruf awal. Contoh homonimi yang disebabkan oleh faktor tersebut adalah Polisi Militer (PM) dengan Perdana Menteri (PM).
b). Pengakroniman adalah penyingkatan dengan gabungan huruf awal, gabungan suku kata, atau gabungan kombinasi huruf dan suku kata dari deret yang ditulis serta dilafalkan sebagai kata yang wajar. Contohnya adalah sebagai berikut:
(1). Langsung Umum Bebas Rahasia (Luber)
Luber → air yang meluap dari wadahnya.
(2). Jaksa Agung (Jagung)
Jagung → nama tanaman
(3). Gelanggang Olahraga (Gelora)
Gelora → hasrat; semangat
4). Adanya berbagai gejala bahasa.
Gejala bahasa adalah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya. Berikut ini beberapa gejala bahasa:
a). Penambahan fonem adalah gejala bahasa yang prosesnya menambahkan fonem pada suatu kata, jenisnya adalah sebagai berikut:
(1). Protesis (penambahan fonem di depan), contohnya adalah kata rak, mengalami protesis menjadi erak (tempat untuk menyimpan peralatan dapur dan erak (letak).
(2). Epentesis (penambahan fonem di tengah), contohnya adalah kapak menjadi kampak (alat untuk memotong kayu) dan kampak (minyak gosok merk kapak).
(3). Paragoge (penambahan fonem di belakang), contohnya adalah gaji menjadi gajih (bayaran; upah) dan gajih (lemak).
b). Penghilangan fonem adalah penghilangan sebuah fonem dari suatu kata, jenisnya ialah sebagai berikut:
(1). Aferesis (penghilangan fonem di depan), contohnya seperti berikut ini:
(a). Haus → aus (dahaga atau ingin minum air)
aus → susut karena sering dipakai.
(b). Hasta → asta (ukuran sepanjang lengan bawah
dari siku ke ujung jari tengah)
asta → delapan
(2). Sinkop (penghilangan fonem di tengah), contohnya adalah kata basa (istilah dalam kimia) dengan basa (semula bahasa) yang atinya bunyi yang dikeluarkan alat ucap manusia untuk berkomunikasi.
(3). Apakop (penghilangan fonem di belakang), contohnya adalah kata akas (tangkas; sehat) dengan akas (semula akasa) yang artinya langit.
c). Perubahan fonem adalah proses dimana dalam pemakaian bahasa seringkali bunyi atau fonem sebuah kata berubah menjadi fonem lain yang hampir mirip atau mendekati fonem sebelumnya. Contohnya adalah kata syah (semula syeh) yang berarti raja dengan syah yang berarti resm).
d). Pertukaran fonem adalah proses bertukarnya atau berpindahnya letak fonem. Contohnya pada kata padam (semula padma) yang mempunyai arti bungan teratai merah dengan kata padam yang berarti tidak menyala.
2. Hiponimi
a. Hakikat Hiponimi
Kridalaksana dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:67) mendefinisikan hiponimi sebagai hubungan semantik antara makna spesifik dan makna generik, atau antara anggota taksonomi dengan nama taksonomi. Secara etimologi hiponimi berasal dari kata onoma dengan arti nama dan hypo yang berarti di bawah. Secara harfiah hiponimi berarti nama yang termasuk di bawah nama lain (pustaka.ut.ac.id). Verhaar menyatakan hiponimi adalah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat juga berupa frasa atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain (Abdul ccaer, 1990:102).
Hiponimi menyatakan hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis. Hiponimi kemudian menjadi dasar pendekatan yang disebut dengan semantic field atau semantic domain, yaitu pendekatan semantik yang mecoba melakukan klasifikasi makna berdasarkan persamaan arti atau bidang makna yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok (t_wahyu.staff.gunadarma.ac.id). Konsep hiponimi tidak dapat dipisahkan dari hipernimi. Hiponimi adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain atau bertindak sebagai kata umum, sedangkan hipernimi merupakan klasifikasi yang lebih khusus yang termasuk dalam hiponimi. Umumnya kata-kata hiponimi adalah suatu kategori dan hipernimi merupakan anggota dari kategori tersebut.
b. Contoh Hiponimi
Hiponimi Hipernimi
Ikan
Bunga
Kendaraan
Melihat
Binatang tongkol, bandeng, mujair, kakap, lele, dsb.
mawar, melati, lili, anyelir, kemuning, dsb.
sepeda, motor, becak, kereta api, dsb.
menengok, mengintip, mengintai, memandang, dsb.
ayam, kambing, sapi, kelinci, anjing, kucing, dsb.
3. Metonimia
a. Hakikat Metonimia
Metonimia dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai kiasan pengganti nama (Pradopo, 1990:77). Lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut pada sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan untuk menggantikan objek tersebut.
Metonimia menyebutkan sesuatu dengan tidak langsung, melainkan dengan menyebutkan benda atau sesuatu yang lain yang rapat hubungannya dengan sesuatu yang dimaksud itu. Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia (Daryanto, 1997:439) disebutkan entri metonimia mempunyai arti cara menyebutkan sesuatu yang lain yang dianggap mempu mewakili apa yang dimaksud.
b. Hubungan Kata dalam Metonimia
Hubungan kata yang menggnatikan dengan kata yang lain terdapat empat jenis hubungan (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:68-72). Jenis-jenis hubungan tersebut adalah:
1). Hubungan Spasial;
Terbentuk karena kedekatan lokatif kata dengan kata yang digantikannya. Misalnya kata komodo merupakan sebuah nama binatang kadal raksasa, tempat komodo tersebut berkembang biak adalah pulau Komodo, contoh lainnya adalah kapur barus yang mempunyai arti damar yang dibentuk biasanya dengan bulatan kecil, dinamakan kapur barus karena berasal dari kota Barus Sumatra Utara.
2). Hubungan Temporal;
Perubahan makna juga terjadi karena hubungan temporal antara kata yang menggantikan dan kata yang menggantikan. Ullmann memberikan contoh kata missa. Kata missa (sekarang misa) bermakna mengirim atau membubarkan suatu pertemuan, sedangkan missa saat sekarang lebih mengacu pada pertemuannya.
3). Hubungan Logikal;
Kata-kata yang digunakan sekarang ini seringkali berhubungan dengan nama penciptanya sebagai tanda penghormatan. Misalnya kata amper, volt, mujair, dsb merupakan nama-nama orang yang digunakan untuk barang temuannya sebagai penghormatan.
4). Hubungan Sebagian-Keseluruhan.
Hubungan sebagian-keseluruhan dibedakan menjadi dua, yakni:
(a). Hubungan sebagian untuk keseluruhan (pars pro toto) adalah bentuk-bentuk yang digunakan untuk mewakili atau mengganti suatu objek secadara keseluruhan, misalnya dalam si kaca mata, si hidung mancung, sepasang mata, dsb;
(b). Hubungan keseluruhan untuk sebagian (totem pro parte) adalah bentuk-bentuk yang digunakan untuk mewakili sebagian benda yang biasanya berasosiasi dengannya, misalnya dalam kata sekolah (menggantikan kata murid, guru, dan hal-hal yang berkaitan dengannya).
Selanjutnya pada hubungan ini dibagi juga menjadi tiga jenis. Jenis-jenis tersebut adalah:
(a). Hubungan lokasional, contohnya pada penggunaan kata dompet, amplop, sekolah semuanya menggantikan benda lain yang ada di dalamnya;
(b). Hubungan atributif, contoh penggunaannya terdapat pada si kaca mata, si hidung mancung mewakili sebagian sifat atau keseluruhan individuyang diwakilinya;
(c). Hubungan anggota kelas, contohnya dalam kalimat: Ayah berangkat kerja naik Honda, Karena kehausan, saya minum aqua. Kata-kata honda dan aqua (merupakan merk barang) tersebut menggantikan nama dari barang yang digunakan oleh seseorang.
c. Contoh Metonimia
Metonimia dapat dipahami dengan contoh-contoh penggunaan dalam bahasa. Berikut ini contoh metonimia:
1). Raja mempertahankan mahkotanya dengan pedang dan tangan besi.
Mahkota adalah metonimia dari kuasa seorang raja atas sebuahkerajaan. Mahkota adalah benda yang dekat dengan kekuasaan seorang raja. Kata juga pedang juga merupakan metonimia, hal itu disebabkan karena kata pedang dekat dengan cara memimpin yang menggunakan kekerasan, ancaman, atau ketegasan (Hasan Aspahani, www.esfieana.multiply.com).
2). Ia baru saja menerima amplop dari atasannya.
Kata amplop menggantikan kata uang karena amplop dan uang mempunyai kedekatan hubungan. Amplop biasanya digunakan untuk menyimpan uang yang akan diberikan kepada seseorang, misalnya saja untuk sumbangan, dsb.
C. Simpulan
Bahasa Indonesia mengenal adanya berbagai makna kata yang berhubungan dengan kata-kata lainnya. Diantaranya adalah jenis kata homonimi, hiponimi, dan metonimia. Penjelasan dan penjabarannya telah disampaikan pada uraian bab pembahasan. Berikut ini adalah simpulan secara garis besar inti dari uraian tersebut.
1. Homonimi adalah dua kata atau lebih yang secara kebetulan memiliki pola bunyi yang sama. Secara semantik, definisi hominimi adalah sebagai ungkapan (berupa kata atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan (berupa kata, farsa, atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama. Kata-kata yang berhomonim dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu homonim yang homografi, homofoni, dan homografi dan homofoni;
2. Definisi hiponimi sebagai hubungan semantik antara makna spesifik dan makna generik, atau antara anggota taksonomi dengan nama taksonomi (biasanya disebut dengan hipernimi). Secara harfiah hiponimi berarti nama yang termasuk di bawah nama lain. Hiponimi menyatakan hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis;
3. Metonimia dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai kiasan pengganti nama, menyebutkan sesuatu dengan tidak langsung, melainkan dengan menyebutkan benda atau sesuatu yang lain yang rapat hubungannya dengan sesuatu yang dimaksud itu.
Ayu Ardiyanti Rifai
IKIP PGRI Madiun
A. Pendahuluan
Bahasa merupakan hal yang tidak pernah lepas kehidupan manusia. Bahasa mempunyai peran yang penting bagi manusia, selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga digunakan untuk menjalankan setiap aktivitas manusia dalam berbagai bidang. Membahas tentang bahasa sebagai alat komunikasi, maka tidak akan bisa lepas dari kajian semantik. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna kata atau makna bahasa.
Ilmu linguistik mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan tersusun secara sistematis. Lambang-lambang yang digunakan sebagai bahasa tersebut harus bisa didengar dan diucapkan. Setiap lambang bahasa mempunyai makna tertentu, dan lambang-lambang tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi antar manusia.
Bahasa terdiri dari satuan-satuan bahasa yang disusun secara sistematis. Satuan-satuan bahasa tersebut mengandung komponen makna yang kompleks. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perhubungan yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainya. Para ahli semantik telah mengklasifikasikan perhubungan makna itu dalam berbagai kategori, seperti sinonimi, antonimi, polisemi, hiponimi, homonimi, metonimia. Makalah sederhana ini berisi pembahasan tentang hubungan bentuk dan makna dalam telaah semantik bahasa Indonesia. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori, yaitu homonimi, hopinimi, dan metonimia.
B. Pembahasan
1. Homonimi
a. Hakikat Homonimi
Homonini secara etimologi berasal dari kata homos yang artinya sejenis dan onoma atau kata, dalam ilmu bahasa mempunyai arti kata-kata yang sama bunyinya tetapi mempunyai arti dan pengertian yang berbeda (H.G. Tarigan, 1990:30). Wijana dan M. Rohmadi (2008:55) menyatakan bahwa homonimi adalah dua kata atau lebih yang secara kebetulan memiliki pola bunyi yang sama. Secara semantik, Verhaal memberi definisi hominimi sebagai ungkapan (berupa kata atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan (berupa kata, farsa, atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama (Abdul Chaer, 1990:97).
Kata-kata yang berhomonim dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu homonim yang homografi, homofoni, dan homografi dan homofoni. Homonimi yang homografi kesamaannya terletak pada keidentikan ortografi (tulisan dan ejaan), contohnya kata teras (lantai depan rumah) dan tẽras (pejabat tinggi). Sedangkan homonimi yang homofoni kesamaanya terdapat pada keidentikan bunyi dan pengucapan, misalnya pada kata sanksi (hukuman) dan sangsi (ragu). Homonimi yang homofoni dan homografi adalah homonimi yang kesamaannya terletak pada ortografi dan pengucapan, contohnya seperti pada kata bisa (dapat) dan bisa (racun); buku (kitab) dan buku (sendi); karang (batu) dan karang (menulis), dsb. Menurut Allan dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008,57) homonimi yang mempunyai kesaman pada ortografi dan pengucapan disebut sebagai homonimi komplet.
b. Sebab Terbentuknya Hominimi
Homonimi terbentuk karena beberapa faktor, selain karena memang ada dua pasangan leksem atau lebih yang kebetulan punya makna atau bentuk yang sama (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:57). Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1). Proses afiksasi;
Merupakan proses penambahan afiks pada bentuk dasar untuk membentuk kata yang lebih kompleks. Hal tersebut bisa menyebabkan terjadi pembentukan homonimi, seperti dalam contoh berikut ini:
a). ber + uang = beruang (memiliki uang)
ber + ruang = beruang (tempat yang memiliki ruang)
beruang = beruang (binatang)
b). me (N) + karang = mengarang (menjadi batu karang)
me (N) + karang = mengarang (membuat tulisan)
me (N) + arang = mengarang (menjadi arang)
2). Masuknya kata-kata baru dalam kosakata bahasa Indonesia;
Bahasa adalah sesuatu yang hidup dan digunakan oleh manusia atau masyarakat penutur, sehingga bahasa akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan manusia. perkembangan bahasa tersebut berkaitan dengan pengambilan dan pemungutan konsep-konsep baru untuk keperluan berbagai macam aspek kehidupan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Bahasa Indonesia dalam proses perkembangannya banyak memungut dari kosa kata asing yang disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia (melalui proses adaptasi). Hal tersebut juga bisa mejadi penyebab pembentukan homonimi, misalnya seperti dalam contoh berikut ini:
a). Boek (bahasa Belanda) → buku (kitab; lembaran kertas yang
dijilid)
Buku (bahasa Indonesia) → buku (ruas-ruas)
b). Copy (bahasa Inggris) → kopi (tiruan; hasil cetakan yang
mirip aslinya)
Kopi (bahasa Indonesia) → kopi (biji-bijian yang diolah
menjadi minuman)
3). Proses penyingkatan dan pengakroniman;
a). Penyingkatan adalah proses pemendekatan bentuk yang dianggap panjang dengan cara penggabungan huruf awal. Contoh homonimi yang disebabkan oleh faktor tersebut adalah Polisi Militer (PM) dengan Perdana Menteri (PM).
b). Pengakroniman adalah penyingkatan dengan gabungan huruf awal, gabungan suku kata, atau gabungan kombinasi huruf dan suku kata dari deret yang ditulis serta dilafalkan sebagai kata yang wajar. Contohnya adalah sebagai berikut:
(1). Langsung Umum Bebas Rahasia (Luber)
Luber → air yang meluap dari wadahnya.
(2). Jaksa Agung (Jagung)
Jagung → nama tanaman
(3). Gelanggang Olahraga (Gelora)
Gelora → hasrat; semangat
4). Adanya berbagai gejala bahasa.
Gejala bahasa adalah peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya. Berikut ini beberapa gejala bahasa:
a). Penambahan fonem adalah gejala bahasa yang prosesnya menambahkan fonem pada suatu kata, jenisnya adalah sebagai berikut:
(1). Protesis (penambahan fonem di depan), contohnya adalah kata rak, mengalami protesis menjadi erak (tempat untuk menyimpan peralatan dapur dan erak (letak).
(2). Epentesis (penambahan fonem di tengah), contohnya adalah kapak menjadi kampak (alat untuk memotong kayu) dan kampak (minyak gosok merk kapak).
(3). Paragoge (penambahan fonem di belakang), contohnya adalah gaji menjadi gajih (bayaran; upah) dan gajih (lemak).
b). Penghilangan fonem adalah penghilangan sebuah fonem dari suatu kata, jenisnya ialah sebagai berikut:
(1). Aferesis (penghilangan fonem di depan), contohnya seperti berikut ini:
(a). Haus → aus (dahaga atau ingin minum air)
aus → susut karena sering dipakai.
(b). Hasta → asta (ukuran sepanjang lengan bawah
dari siku ke ujung jari tengah)
asta → delapan
(2). Sinkop (penghilangan fonem di tengah), contohnya adalah kata basa (istilah dalam kimia) dengan basa (semula bahasa) yang atinya bunyi yang dikeluarkan alat ucap manusia untuk berkomunikasi.
(3). Apakop (penghilangan fonem di belakang), contohnya adalah kata akas (tangkas; sehat) dengan akas (semula akasa) yang artinya langit.
c). Perubahan fonem adalah proses dimana dalam pemakaian bahasa seringkali bunyi atau fonem sebuah kata berubah menjadi fonem lain yang hampir mirip atau mendekati fonem sebelumnya. Contohnya adalah kata syah (semula syeh) yang berarti raja dengan syah yang berarti resm).
d). Pertukaran fonem adalah proses bertukarnya atau berpindahnya letak fonem. Contohnya pada kata padam (semula padma) yang mempunyai arti bungan teratai merah dengan kata padam yang berarti tidak menyala.
2. Hiponimi
a. Hakikat Hiponimi
Kridalaksana dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:67) mendefinisikan hiponimi sebagai hubungan semantik antara makna spesifik dan makna generik, atau antara anggota taksonomi dengan nama taksonomi. Secara etimologi hiponimi berasal dari kata onoma dengan arti nama dan hypo yang berarti di bawah. Secara harfiah hiponimi berarti nama yang termasuk di bawah nama lain (pustaka.ut.ac.id). Verhaar menyatakan hiponimi adalah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat juga berupa frasa atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain (Abdul ccaer, 1990:102).
Hiponimi menyatakan hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis. Hiponimi kemudian menjadi dasar pendekatan yang disebut dengan semantic field atau semantic domain, yaitu pendekatan semantik yang mecoba melakukan klasifikasi makna berdasarkan persamaan arti atau bidang makna yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok (t_wahyu.staff.gunadarma.ac.id). Konsep hiponimi tidak dapat dipisahkan dari hipernimi. Hiponimi adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain atau bertindak sebagai kata umum, sedangkan hipernimi merupakan klasifikasi yang lebih khusus yang termasuk dalam hiponimi. Umumnya kata-kata hiponimi adalah suatu kategori dan hipernimi merupakan anggota dari kategori tersebut.
b. Contoh Hiponimi
Hiponimi Hipernimi
Ikan
Bunga
Kendaraan
Melihat
Binatang tongkol, bandeng, mujair, kakap, lele, dsb.
mawar, melati, lili, anyelir, kemuning, dsb.
sepeda, motor, becak, kereta api, dsb.
menengok, mengintip, mengintai, memandang, dsb.
ayam, kambing, sapi, kelinci, anjing, kucing, dsb.
3. Metonimia
a. Hakikat Metonimia
Metonimia dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai kiasan pengganti nama (Pradopo, 1990:77). Lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut pada sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan untuk menggantikan objek tersebut.
Metonimia menyebutkan sesuatu dengan tidak langsung, melainkan dengan menyebutkan benda atau sesuatu yang lain yang rapat hubungannya dengan sesuatu yang dimaksud itu. Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia (Daryanto, 1997:439) disebutkan entri metonimia mempunyai arti cara menyebutkan sesuatu yang lain yang dianggap mempu mewakili apa yang dimaksud.
b. Hubungan Kata dalam Metonimia
Hubungan kata yang menggnatikan dengan kata yang lain terdapat empat jenis hubungan (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:68-72). Jenis-jenis hubungan tersebut adalah:
1). Hubungan Spasial;
Terbentuk karena kedekatan lokatif kata dengan kata yang digantikannya. Misalnya kata komodo merupakan sebuah nama binatang kadal raksasa, tempat komodo tersebut berkembang biak adalah pulau Komodo, contoh lainnya adalah kapur barus yang mempunyai arti damar yang dibentuk biasanya dengan bulatan kecil, dinamakan kapur barus karena berasal dari kota Barus Sumatra Utara.
2). Hubungan Temporal;
Perubahan makna juga terjadi karena hubungan temporal antara kata yang menggantikan dan kata yang menggantikan. Ullmann memberikan contoh kata missa. Kata missa (sekarang misa) bermakna mengirim atau membubarkan suatu pertemuan, sedangkan missa saat sekarang lebih mengacu pada pertemuannya.
3). Hubungan Logikal;
Kata-kata yang digunakan sekarang ini seringkali berhubungan dengan nama penciptanya sebagai tanda penghormatan. Misalnya kata amper, volt, mujair, dsb merupakan nama-nama orang yang digunakan untuk barang temuannya sebagai penghormatan.
4). Hubungan Sebagian-Keseluruhan.
Hubungan sebagian-keseluruhan dibedakan menjadi dua, yakni:
(a). Hubungan sebagian untuk keseluruhan (pars pro toto) adalah bentuk-bentuk yang digunakan untuk mewakili atau mengganti suatu objek secadara keseluruhan, misalnya dalam si kaca mata, si hidung mancung, sepasang mata, dsb;
(b). Hubungan keseluruhan untuk sebagian (totem pro parte) adalah bentuk-bentuk yang digunakan untuk mewakili sebagian benda yang biasanya berasosiasi dengannya, misalnya dalam kata sekolah (menggantikan kata murid, guru, dan hal-hal yang berkaitan dengannya).
Selanjutnya pada hubungan ini dibagi juga menjadi tiga jenis. Jenis-jenis tersebut adalah:
(a). Hubungan lokasional, contohnya pada penggunaan kata dompet, amplop, sekolah semuanya menggantikan benda lain yang ada di dalamnya;
(b). Hubungan atributif, contoh penggunaannya terdapat pada si kaca mata, si hidung mancung mewakili sebagian sifat atau keseluruhan individuyang diwakilinya;
(c). Hubungan anggota kelas, contohnya dalam kalimat: Ayah berangkat kerja naik Honda, Karena kehausan, saya minum aqua. Kata-kata honda dan aqua (merupakan merk barang) tersebut menggantikan nama dari barang yang digunakan oleh seseorang.
c. Contoh Metonimia
Metonimia dapat dipahami dengan contoh-contoh penggunaan dalam bahasa. Berikut ini contoh metonimia:
1). Raja mempertahankan mahkotanya dengan pedang dan tangan besi.
Mahkota adalah metonimia dari kuasa seorang raja atas sebuahkerajaan. Mahkota adalah benda yang dekat dengan kekuasaan seorang raja. Kata juga pedang juga merupakan metonimia, hal itu disebabkan karena kata pedang dekat dengan cara memimpin yang menggunakan kekerasan, ancaman, atau ketegasan (Hasan Aspahani, www.esfieana.multiply.com).
2). Ia baru saja menerima amplop dari atasannya.
Kata amplop menggantikan kata uang karena amplop dan uang mempunyai kedekatan hubungan. Amplop biasanya digunakan untuk menyimpan uang yang akan diberikan kepada seseorang, misalnya saja untuk sumbangan, dsb.
C. Simpulan
Bahasa Indonesia mengenal adanya berbagai makna kata yang berhubungan dengan kata-kata lainnya. Diantaranya adalah jenis kata homonimi, hiponimi, dan metonimia. Penjelasan dan penjabarannya telah disampaikan pada uraian bab pembahasan. Berikut ini adalah simpulan secara garis besar inti dari uraian tersebut.
1. Homonimi adalah dua kata atau lebih yang secara kebetulan memiliki pola bunyi yang sama. Secara semantik, definisi hominimi adalah sebagai ungkapan (berupa kata atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan (berupa kata, farsa, atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama. Kata-kata yang berhomonim dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu homonim yang homografi, homofoni, dan homografi dan homofoni;
2. Definisi hiponimi sebagai hubungan semantik antara makna spesifik dan makna generik, atau antara anggota taksonomi dengan nama taksonomi (biasanya disebut dengan hipernimi). Secara harfiah hiponimi berarti nama yang termasuk di bawah nama lain. Hiponimi menyatakan hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis;
3. Metonimia dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai kiasan pengganti nama, menyebutkan sesuatu dengan tidak langsung, melainkan dengan menyebutkan benda atau sesuatu yang lain yang rapat hubungannya dengan sesuatu yang dimaksud itu.
Selasa, 09 Februari 2010
HUBUNGAN BENTUK DAN MAKNA DALAM BAHASA INDONESIA KATEGORI SINONIMI, ANTONIMI, POLISEMI: SEMANTIK BAHASA INDONESIA
Ayu Ardiyanti Rifai
IKIP PGRI Madiun
A. Pendahuluan
Bahasa merupakan hal yang tidak pernah lepas kehidupan manusia. Bahasa mempunyai peran yang penting bagi manusia, selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga digunakan untuk menjalankan setiap aktivitas manusia dalam berbagai bidang. Membahas tentang bahasa sebagai alat komunikasi, maka tidak akan bisa lepas dari kajian semantik. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna kata atau makna bahasa.
Ilmu linguistik mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan tersusun secara sistematis. Lambang-lambang yang digunakan sebagai bahasa tersebut harus bisa didengar dan diucapkan. Setiap lambang bahasa mempunyai makna tertentu, dan lambang-lambang tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi antar manusia.
Bahasa terdiri dari satuan-satuan bahasa yang disusun secara sistematis. Satuan-satuan bahasa tersebut mengandung komponen makna yang kompleks. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perhubungan yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainya. Para ahli semantik telah mengklasifikasikan perhubungan makna itu dalam berbagai kategori, seperti sinonimi, antonimi, polisemi, hiponimi, homonimi, metonimia. Makalah sederhana ini berisi pembahasan tentang hubungan bentuk dan makna dalam telaah semantik bahasa Indonesia. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori, yaitu sinonimi, antonimi, dan polisemi.
B. Pembahasan
1. Sinonimi
a. Hakikat Sinonimi
Sinonimi merupakan bentuk hubungan persamaan makna. Secara etimologi, sinonimi berasal ari kata onoma yang berarti nama, dan syn yang berarti dengan, jadi secara harfiah sinonimi berarti nama lain untuk benda atau benda yang sama (Abdul Chaer, 1990, 85). Ada juga yang menyebutkan bahwa sinonimi berasal dari kata sin yang berarti sama atau serupa dan onim yang berarti nama, sehingga sinonimi bermakna sebagai sebuah kata yang dikelompokkan dengan kata-kata lain di dalam klasifikasi yang sama berdasarkan makan umum (H.G. Tarigan, 1990:17).
Secara semantik sinonimi didefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frasa, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan yang lain. Dengan kata lain, sinonimi adalah hubungan persamaan, dimana bentuk kebahasaan yang satu memiliki persamaan dengan bentuk kebahasaan yang lain (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:28).
Jika diperhatikan, walaupun kata-kata yang saling bersinonimi memiliki kesamaan makna, tapi kesamaan tersebut tidak bersifat total atau menyeluruh. Bloomfield dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:29) menyatakan bahwa bentuk kebahaasan yang memiliki struktur fonemis yang berbeda dapat dipastikan memiliki makna yang berbeda, meskipun kecil. Meskipun suatu kata-kata saling bersinonimi, tapi masih punya perbedaan makna. hal tersbeut bisa diperhatikan pada contoh-contoh sinonimi. Menurut Verhaar yang sama adalah informasinya. Hal ini sesuai dengan prinsip semantik yang mengatakan bahwa apabila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda, walaupun perbedaannya hanya sedikit. Selain itu, dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang bersinonim belum tentu dapat dipertukarkan begitu saja (pustaka.ut.ac.id › Home › FKIP).
b. Penyebab Perbedaan Kata yang Bersinonim
Ullmann dalam Wijana dan Rohmadi (2008:31-32) menyebutkan beberapa kemungkinan penyebab perbedaan kata-kata yang bersinonim, yaitu:
1). Karena faktor umum dan khusus, contoh melihat lebih umum daripada kata menatap, melirik, menengok, dsb;
2). Karena keintensifan, misalnya kata sulit lebih intensif digunakan daripada kata sukar;
3). Karena faktor kesopanan, seperti halnay pada kata santap lebih sopan daripada kata makan;
4). Makna kata yang satu lebih literer (bersifat kesastraan) jika dibandingkan kata yang satunya, contohnya kata surya (literer) dengan kata matahari;
5). Karena faktor ragam bahasa, contohnya aku (merupakan ragam bahasa kolokuial) dengan kata saya (lebih formal);
6). Karena sifat kedaerahan atau karena dialektikal, seperti gue, beta, ane, dsb;
7). Karena faktor usia, misalnya, bubuk, maem lebih cocok untuk anak-anak, sedangkan tidur, makan lebih untuk penggunaan orang dewasa.
c. Contoh Sinonimi dan Analisisnya
1). Mendidik = mengajar, melatih, mengasuh.
2). Mati = meninggal, wafat, gugur, tewas.
Contoh-contoh di atas merupakan sedikit contoh sinonimi. Kata-kata tersebut di atas mempunyai beberapa kata dengan makna yang sama. Namun, jika diperhatikan lebih seksama, antar kata yang saling bersinonimi mempunyia perbedaan, khususnya pada penerapannya dalam konteks.
Kata mendidik mempunyai makna yang lebih luas daripada kata-kata yang lain, sehingga penggunaannya dalam konteks juga bisa lebih luas, yang bermakna melakukan upaya untuk mengubah sikap, tata laku, dan pengetahuan seseorang. Bandingkan dengan kata mengajar, melatih, dan mengasuh. Kata mengajar lebih mengacu pada transfer ilmu dari guru ke murid melalui lisan semata, sedangkan melatih lebih mengacu pada pembelajaran yang dilakukan dengan perbuatan, kata mengasuh acuannya lebih condong pada menjaga dan memelihara bayi atau anak kecil.
Kemudian kata mati digunakan dalam konteks yang lebih luas, misalnya saja pada benda yang bernyawa dan tidak bernyawa, contonya: Pohon mangga itu mati karena tidak dirawat; Kucing Ali mati. Pada kata meninggal, wafat, gugur, tewas, penggunaannya dipengaruhi dengan status sosial. Kata meninggal diperuntukkan orang-orang kebanyakan, penggunaannya lebih luas dibandingkan dengan tiga kata yang lain, sedangkan kata wafat untuk orang-orang yang berstatus sosial bangsawan, gugur untuk pahlawan, dan tewas lebih mengacu pada orang-orang mati dengan cara kurang baik, contohnya dalam kalimat: Penjahat itu tewas ditembak polisi; Gelandangan itu tewas kelaparan.
2. Antonimi
a. Hakikat Antonimi
Kata antonimi berasal dari kata onoma berarti kata dan anti yang artinya melawan. Antonimi didefinisikan sebagai perlawanan makna atau berlawanan dengan kata yang lain. Menurut Verhaar dalam Abdul Chaer (1990:91) antonimi ialah ungkapan (biasanya kata, frasa atau kalimat) yang dianggap bermakna kebalikan dari ungkapan lain.
Antonimi terdapat pada semua tataran bahasa, yaitu morfem, kata, frasa, dan kalimat. Masyarakat umum menyebutkan antonimi sebagai lawan kata, tapi sebutan tersbeut sepertinya kurang tepat. Verhaar dalam Abdul Chaer (1990:92) juga menyatakan bahwa antonimi juga tidak bersifat mutlak maksudnya bahwa kata-kata yang dianggap berlawanan makna sebenarnya bukanlah berlawanan, tapi hanya dianggap kebalikannya.
b. Penggolongan Antonimi
Berdasarkan jumlah pasangan dan sifat perlawanannya, antonimi digolongkan menjadi beberapa jenis (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:34-40). Penggolongan tersebut adalah sebagai berikut:
1). Biner dan nonbiner;
a). Antonimi biner maksudnya adalah perlawanan makna kata yang anggotanya dua buah kata, contohnya: mati x hidup, jantan x betina, dsb;
b). Antonimi nonbiner adalah perlawanan kata yang anggota pasangannya lebih dari dua kata, contohnya:
dahulu x sekarang, tadi, hari ini.
berdiri x duduk, berbaring, jongkok, tiarap.
2). Bergradasi dan tak bergradasi;
a). Antonimi bergradasi adalah perlawanan makna kata yang berjenjang sehubungan dengan sifat-sifat relatif makna kata-kata yang berlawanan, contohnya: tinggi x rendah, lebar x sempit, besar x kecil, pimpinan x bawahan, dsb;
b). Antonimi tak bergradasi adalah perlawanan tak berjenjang atau tak bertingkat karena relasinya tidak bersifat relatif, misalnya: ayah x ibu, kakek x nenek, dsb.
3). Orthogonal dan antipodal;
a). Antonimi orthogonal adalah perlawanan makna kata yang oposisinya tidak bersifat diametrik, kata utara berantonimi orthogonal dengan semua arah mata angin (kecuali selatan);
b). Antonimi antipodal adalah perlawanan makna kata yang oposisinya bersifat diametrik, contohnya: utara x selatan, timur x barat, kaya x miskin, dsb.
4). Antonimi direksional adalah perlawanan makna kata yang oposisinya ditentukan berdasarkan gerak menjauhi dan mendekati suatu tempat, contohnya: pulang x pergi, ke sana x ke mari;
5). Antonimi relasional adalah perlawanan makna kata yang oopsisinya bersifat kebalikan, misalnya: atas x bawah, orang tua x anak, guru x murid, suami x istri.
Abdul Chaer (1989:93-96) berdasarkan sifatnya membedakan antonimi menjadi:
1). Antonimi mutlak, sejalan dengan antonimi biner;
2). Antonimi kutub, pemahamannya sama dengan antonimi antipodal;
3). Antonimi hubungan, sesuai dengan antonimi relasional;
4). Antonimi hierarkial, sejalan dengan antonimi bergradasi;
5). Antonimi majemuk, pemahamannya sama dengan antonimi nonbiner.
3. Polisemi
a. Hakikat Polisemi
Polisemi diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frasa) yang memiliki makna lebih dari satu (Abdul Chaer, 1990:104). Pernyataan yang sama menyebutkan bahwa polisemi adalah sebuah bentuk kebahasaan yang memiliki berbagai macam makna, perbedaan makna yang satu dengan yang laindapat ditelusuri atau dirunut sehingga sampai pada kesimpulan bahwa makna-makna tersebut berasal dari sumber yang sama (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:41).
Allan dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:41) mendefinisikan polisemi sebagai unsur emik yang memiliki dua makna atau lebih. Dalam leksikografi, kata-kata berpolisemi dimasukkan dalam satu entri yang sama bersama berbagai kemungkinan maknanya.
b. Faktor-faktor Munculnya Polisemi
Ullmann dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:44) menyebutkan bhawa polisemi terbentuk karena beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1). Pergeseran pemakaian;
Pemakaian bahasa yang sangat luas menyebabkan makna sebuah kata mengalami pergeseran. Jika pergeseran makna masih dekat, maka penutur kemungkinan masih bisa mengenali hubungan makna yang baru dengan makan primer (makna semula). Sedangkan ketika pergeseran maknanya sudah jauh, maka penutur akan kesulitan menemukan hubungan makna baru dengan makna primernya.
2). Spesialisasi dalam lingkungan sosial;
Lingkungan sosialseringkali memiliki kata-kata yang maknanya khas yang berbeda dengan makna kata dalam penggunaan biasa. Contohnya asam garam, dalam lingkungan sosial bisa berarti pengalaman, sedangkan secara linguistik mempunyai makna sebagai bumbu-bumbu masakan.
3). Bahasa figuratif;
Bahasa figuratif adalah bahasa-bahasa yang membentuk metafora-metafora karena adanya penyimpangan penerapan makna suatu referen. Misalnya kata lintah mempunyai arti hewan yang menghisap darah, tapi kata lintah dalam lintah darat bisa berarti rentenir.
4). Penafsiran kembali pasangan berhomonim;
Kata-kata yang secara sinkronis mempunyai hubungan homonimi, maka secara diakronis mungkin sekali berhubungan membentuk polisemi. Contohnya dalam kata kuda dengan kuda-kuda, secara sinkronis merupakan homonimi yang berhomograf dan berhomofon, tapi bisa juga menjadi polisemiberdasarkan konsep maknanya, kuda adalah binatang berkaki empat yang kuat, sedangkan kuda-kuda adalah sikap atau posisi dalam silat yang merupakan posisi yang kuat, atau bisa juga salah satu bagian rumah yang merupakan kerangka untuk atap dan harus kuat.
5). Pengaruh bahasa asing.
Konsep-konsep bahasa asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia juga mengakibatkan perubahan pada makna kata-kata bahasa yang dimasukinya. Misalnya kata ranjau, dalam makna primer berarti bambu yang ditajamkan kemudian ditanam sebagai perangkap, setelah mendapat pengaruh bahasa asing arti ranjau berarti bom yang ditanam di dalam tanah.
c. Contoh Polisemi
1). Kepala → * bagian tubuh (manusia, binatang) dari leher ke atas * sesuatu yang kedudukannya di atas atau terutama (yang terpenting, yang pokok) * pemimpin.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Kepala orang itu terluka akibat lemparan batu.
b). Penulisan dalam kepala surat dinas itu masih kurang tepat.
c). Kepala Program Studi (Kapodri) sedang tidak berada di tempat karena menghadiri rapat pimpinan.
2). Kaki → * anggota tubuh bagian bawah untuk berjalan * bagian sesuatu yang letaknya di sebelah bawah * sesuatu yang fungsinya sebagai penopang untuk berdiri.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Kaki model itu jenjang.
b). Persawahan di kaki gunung itu nampak subur.
c). Kaki meja kayu itu sudah patah.
3). Akar → * bagian tumbuhan yang berfungsi menyerap makanan dan penguat batang * sangat mendalam * salah satu hal dalam matematika.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Tumbuhan itu berakar serabut..
b). Sifat buruknya sudah sangat mengakar sehingga sulit untuk disadarkan.
c). Akar pangkat tiga dari 8 adalah 2.
C. Simpulan
Bahasa Indonesia mengenal adanya berbagai makna kata yang berhubungan dengan kata-kata lainnya. Diantaranya adalah jenis kata sinonimi, antonimi, dan polisemi. Penjelasan dan penjabarannya telah disampaikan pada uraian bab Pembahasan. Berikut ini adalah simpulan secara garis besar inti dari uraian tersebut.
1. Sinonimi, secara harafiah, kata sinonimi berarti nama lain untuk benda atau hal yang sama, secara semantik mendefinisikan sinonimi sebagai ungkapan (dapat berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain;
2. Antonimi adalah antonim ialah ungkapan (biasanya kata, frase atau kalimat) yang dianggap bermakna kebalikan dari ungkapan lain;
3. Polisemi adalah kata-kata yang memiliki makna atau arti lebih dari satu karena adanya banyak komponen konsep dalam pemaknaan suatu kata.
Ayu Ardiyanti Rifai
IKIP PGRI Madiun
A. Pendahuluan
Bahasa merupakan hal yang tidak pernah lepas kehidupan manusia. Bahasa mempunyai peran yang penting bagi manusia, selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga digunakan untuk menjalankan setiap aktivitas manusia dalam berbagai bidang. Membahas tentang bahasa sebagai alat komunikasi, maka tidak akan bisa lepas dari kajian semantik. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna kata atau makna bahasa.
Ilmu linguistik mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan tersusun secara sistematis. Lambang-lambang yang digunakan sebagai bahasa tersebut harus bisa didengar dan diucapkan. Setiap lambang bahasa mempunyai makna tertentu, dan lambang-lambang tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi antar manusia.
Bahasa terdiri dari satuan-satuan bahasa yang disusun secara sistematis. Satuan-satuan bahasa tersebut mengandung komponen makna yang kompleks. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perhubungan yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainya. Para ahli semantik telah mengklasifikasikan perhubungan makna itu dalam berbagai kategori, seperti sinonimi, antonimi, polisemi, hiponimi, homonimi, metonimia. Makalah sederhana ini berisi pembahasan tentang hubungan bentuk dan makna dalam telaah semantik bahasa Indonesia. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori, yaitu sinonimi, antonimi, dan polisemi.
B. Pembahasan
1. Sinonimi
a. Hakikat Sinonimi
Sinonimi merupakan bentuk hubungan persamaan makna. Secara etimologi, sinonimi berasal ari kata onoma yang berarti nama, dan syn yang berarti dengan, jadi secara harfiah sinonimi berarti nama lain untuk benda atau benda yang sama (Abdul Chaer, 1990, 85). Ada juga yang menyebutkan bahwa sinonimi berasal dari kata sin yang berarti sama atau serupa dan onim yang berarti nama, sehingga sinonimi bermakna sebagai sebuah kata yang dikelompokkan dengan kata-kata lain di dalam klasifikasi yang sama berdasarkan makan umum (H.G. Tarigan, 1990:17).
Secara semantik sinonimi didefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frasa, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan yang lain. Dengan kata lain, sinonimi adalah hubungan persamaan, dimana bentuk kebahasaan yang satu memiliki persamaan dengan bentuk kebahasaan yang lain (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:28).
Jika diperhatikan, walaupun kata-kata yang saling bersinonimi memiliki kesamaan makna, tapi kesamaan tersebut tidak bersifat total atau menyeluruh. Bloomfield dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:29) menyatakan bahwa bentuk kebahaasan yang memiliki struktur fonemis yang berbeda dapat dipastikan memiliki makna yang berbeda, meskipun kecil. Meskipun suatu kata-kata saling bersinonimi, tapi masih punya perbedaan makna. hal tersbeut bisa diperhatikan pada contoh-contoh sinonimi. Menurut Verhaar yang sama adalah informasinya. Hal ini sesuai dengan prinsip semantik yang mengatakan bahwa apabila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda, walaupun perbedaannya hanya sedikit. Selain itu, dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang bersinonim belum tentu dapat dipertukarkan begitu saja (pustaka.ut.ac.id › Home › FKIP).
b. Penyebab Perbedaan Kata yang Bersinonim
Ullmann dalam Wijana dan Rohmadi (2008:31-32) menyebutkan beberapa kemungkinan penyebab perbedaan kata-kata yang bersinonim, yaitu:
1). Karena faktor umum dan khusus, contoh melihat lebih umum daripada kata menatap, melirik, menengok, dsb;
2). Karena keintensifan, misalnya kata sulit lebih intensif digunakan daripada kata sukar;
3). Karena faktor kesopanan, seperti halnay pada kata santap lebih sopan daripada kata makan;
4). Makna kata yang satu lebih literer (bersifat kesastraan) jika dibandingkan kata yang satunya, contohnya kata surya (literer) dengan kata matahari;
5). Karena faktor ragam bahasa, contohnya aku (merupakan ragam bahasa kolokuial) dengan kata saya (lebih formal);
6). Karena sifat kedaerahan atau karena dialektikal, seperti gue, beta, ane, dsb;
7). Karena faktor usia, misalnya, bubuk, maem lebih cocok untuk anak-anak, sedangkan tidur, makan lebih untuk penggunaan orang dewasa.
c. Contoh Sinonimi dan Analisisnya
1). Mendidik = mengajar, melatih, mengasuh.
2). Mati = meninggal, wafat, gugur, tewas.
Contoh-contoh di atas merupakan sedikit contoh sinonimi. Kata-kata tersebut di atas mempunyai beberapa kata dengan makna yang sama. Namun, jika diperhatikan lebih seksama, antar kata yang saling bersinonimi mempunyia perbedaan, khususnya pada penerapannya dalam konteks.
Kata mendidik mempunyai makna yang lebih luas daripada kata-kata yang lain, sehingga penggunaannya dalam konteks juga bisa lebih luas, yang bermakna melakukan upaya untuk mengubah sikap, tata laku, dan pengetahuan seseorang. Bandingkan dengan kata mengajar, melatih, dan mengasuh. Kata mengajar lebih mengacu pada transfer ilmu dari guru ke murid melalui lisan semata, sedangkan melatih lebih mengacu pada pembelajaran yang dilakukan dengan perbuatan, kata mengasuh acuannya lebih condong pada menjaga dan memelihara bayi atau anak kecil.
Kemudian kata mati digunakan dalam konteks yang lebih luas, misalnya saja pada benda yang bernyawa dan tidak bernyawa, contonya: Pohon mangga itu mati karena tidak dirawat; Kucing Ali mati. Pada kata meninggal, wafat, gugur, tewas, penggunaannya dipengaruhi dengan status sosial. Kata meninggal diperuntukkan orang-orang kebanyakan, penggunaannya lebih luas dibandingkan dengan tiga kata yang lain, sedangkan kata wafat untuk orang-orang yang berstatus sosial bangsawan, gugur untuk pahlawan, dan tewas lebih mengacu pada orang-orang mati dengan cara kurang baik, contohnya dalam kalimat: Penjahat itu tewas ditembak polisi; Gelandangan itu tewas kelaparan.
2. Antonimi
a. Hakikat Antonimi
Kata antonimi berasal dari kata onoma berarti kata dan anti yang artinya melawan. Antonimi didefinisikan sebagai perlawanan makna atau berlawanan dengan kata yang lain. Menurut Verhaar dalam Abdul Chaer (1990:91) antonimi ialah ungkapan (biasanya kata, frasa atau kalimat) yang dianggap bermakna kebalikan dari ungkapan lain.
Antonimi terdapat pada semua tataran bahasa, yaitu morfem, kata, frasa, dan kalimat. Masyarakat umum menyebutkan antonimi sebagai lawan kata, tapi sebutan tersbeut sepertinya kurang tepat. Verhaar dalam Abdul Chaer (1990:92) juga menyatakan bahwa antonimi juga tidak bersifat mutlak maksudnya bahwa kata-kata yang dianggap berlawanan makna sebenarnya bukanlah berlawanan, tapi hanya dianggap kebalikannya.
b. Penggolongan Antonimi
Berdasarkan jumlah pasangan dan sifat perlawanannya, antonimi digolongkan menjadi beberapa jenis (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:34-40). Penggolongan tersebut adalah sebagai berikut:
1). Biner dan nonbiner;
a). Antonimi biner maksudnya adalah perlawanan makna kata yang anggotanya dua buah kata, contohnya: mati x hidup, jantan x betina, dsb;
b). Antonimi nonbiner adalah perlawanan kata yang anggota pasangannya lebih dari dua kata, contohnya:
dahulu x sekarang, tadi, hari ini.
berdiri x duduk, berbaring, jongkok, tiarap.
2). Bergradasi dan tak bergradasi;
a). Antonimi bergradasi adalah perlawanan makna kata yang berjenjang sehubungan dengan sifat-sifat relatif makna kata-kata yang berlawanan, contohnya: tinggi x rendah, lebar x sempit, besar x kecil, pimpinan x bawahan, dsb;
b). Antonimi tak bergradasi adalah perlawanan tak berjenjang atau tak bertingkat karena relasinya tidak bersifat relatif, misalnya: ayah x ibu, kakek x nenek, dsb.
3). Orthogonal dan antipodal;
a). Antonimi orthogonal adalah perlawanan makna kata yang oposisinya tidak bersifat diametrik, kata utara berantonimi orthogonal dengan semua arah mata angin (kecuali selatan);
b). Antonimi antipodal adalah perlawanan makna kata yang oposisinya bersifat diametrik, contohnya: utara x selatan, timur x barat, kaya x miskin, dsb.
4). Antonimi direksional adalah perlawanan makna kata yang oposisinya ditentukan berdasarkan gerak menjauhi dan mendekati suatu tempat, contohnya: pulang x pergi, ke sana x ke mari;
5). Antonimi relasional adalah perlawanan makna kata yang oopsisinya bersifat kebalikan, misalnya: atas x bawah, orang tua x anak, guru x murid, suami x istri.
Abdul Chaer (1989:93-96) berdasarkan sifatnya membedakan antonimi menjadi:
1). Antonimi mutlak, sejalan dengan antonimi biner;
2). Antonimi kutub, pemahamannya sama dengan antonimi antipodal;
3). Antonimi hubungan, sesuai dengan antonimi relasional;
4). Antonimi hierarkial, sejalan dengan antonimi bergradasi;
5). Antonimi majemuk, pemahamannya sama dengan antonimi nonbiner.
3. Polisemi
a. Hakikat Polisemi
Polisemi diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frasa) yang memiliki makna lebih dari satu (Abdul Chaer, 1990:104). Pernyataan yang sama menyebutkan bahwa polisemi adalah sebuah bentuk kebahasaan yang memiliki berbagai macam makna, perbedaan makna yang satu dengan yang laindapat ditelusuri atau dirunut sehingga sampai pada kesimpulan bahwa makna-makna tersebut berasal dari sumber yang sama (Wijana dan M. Rohmadi, 2008:41).
Allan dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:41) mendefinisikan polisemi sebagai unsur emik yang memiliki dua makna atau lebih. Dalam leksikografi, kata-kata berpolisemi dimasukkan dalam satu entri yang sama bersama berbagai kemungkinan maknanya.
b. Faktor-faktor Munculnya Polisemi
Ullmann dalam Wijana dan M. Rohmadi (2008:44) menyebutkan bhawa polisemi terbentuk karena beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1). Pergeseran pemakaian;
Pemakaian bahasa yang sangat luas menyebabkan makna sebuah kata mengalami pergeseran. Jika pergeseran makna masih dekat, maka penutur kemungkinan masih bisa mengenali hubungan makna yang baru dengan makan primer (makna semula). Sedangkan ketika pergeseran maknanya sudah jauh, maka penutur akan kesulitan menemukan hubungan makna baru dengan makna primernya.
2). Spesialisasi dalam lingkungan sosial;
Lingkungan sosialseringkali memiliki kata-kata yang maknanya khas yang berbeda dengan makna kata dalam penggunaan biasa. Contohnya asam garam, dalam lingkungan sosial bisa berarti pengalaman, sedangkan secara linguistik mempunyai makna sebagai bumbu-bumbu masakan.
3). Bahasa figuratif;
Bahasa figuratif adalah bahasa-bahasa yang membentuk metafora-metafora karena adanya penyimpangan penerapan makna suatu referen. Misalnya kata lintah mempunyai arti hewan yang menghisap darah, tapi kata lintah dalam lintah darat bisa berarti rentenir.
4). Penafsiran kembali pasangan berhomonim;
Kata-kata yang secara sinkronis mempunyai hubungan homonimi, maka secara diakronis mungkin sekali berhubungan membentuk polisemi. Contohnya dalam kata kuda dengan kuda-kuda, secara sinkronis merupakan homonimi yang berhomograf dan berhomofon, tapi bisa juga menjadi polisemiberdasarkan konsep maknanya, kuda adalah binatang berkaki empat yang kuat, sedangkan kuda-kuda adalah sikap atau posisi dalam silat yang merupakan posisi yang kuat, atau bisa juga salah satu bagian rumah yang merupakan kerangka untuk atap dan harus kuat.
5). Pengaruh bahasa asing.
Konsep-konsep bahasa asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia juga mengakibatkan perubahan pada makna kata-kata bahasa yang dimasukinya. Misalnya kata ranjau, dalam makna primer berarti bambu yang ditajamkan kemudian ditanam sebagai perangkap, setelah mendapat pengaruh bahasa asing arti ranjau berarti bom yang ditanam di dalam tanah.
c. Contoh Polisemi
1). Kepala → * bagian tubuh (manusia, binatang) dari leher ke atas * sesuatu yang kedudukannya di atas atau terutama (yang terpenting, yang pokok) * pemimpin.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Kepala orang itu terluka akibat lemparan batu.
b). Penulisan dalam kepala surat dinas itu masih kurang tepat.
c). Kepala Program Studi (Kapodri) sedang tidak berada di tempat karena menghadiri rapat pimpinan.
2). Kaki → * anggota tubuh bagian bawah untuk berjalan * bagian sesuatu yang letaknya di sebelah bawah * sesuatu yang fungsinya sebagai penopang untuk berdiri.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Kaki model itu jenjang.
b). Persawahan di kaki gunung itu nampak subur.
c). Kaki meja kayu itu sudah patah.
3). Akar → * bagian tumbuhan yang berfungsi menyerap makanan dan penguat batang * sangat mendalam * salah satu hal dalam matematika.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Tumbuhan itu berakar serabut..
b). Sifat buruknya sudah sangat mengakar sehingga sulit untuk disadarkan.
c). Akar pangkat tiga dari 8 adalah 2.
C. Simpulan
Bahasa Indonesia mengenal adanya berbagai makna kata yang berhubungan dengan kata-kata lainnya. Diantaranya adalah jenis kata sinonimi, antonimi, dan polisemi. Penjelasan dan penjabarannya telah disampaikan pada uraian bab Pembahasan. Berikut ini adalah simpulan secara garis besar inti dari uraian tersebut.
1. Sinonimi, secara harafiah, kata sinonimi berarti nama lain untuk benda atau hal yang sama, secara semantik mendefinisikan sinonimi sebagai ungkapan (dapat berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain;
2. Antonimi adalah antonim ialah ungkapan (biasanya kata, frase atau kalimat) yang dianggap bermakna kebalikan dari ungkapan lain;
3. Polisemi adalah kata-kata yang memiliki makna atau arti lebih dari satu karena adanya banyak komponen konsep dalam pemaknaan suatu kata.
Sabtu, 05 Desember 2009
KEAJAIBAN BAHASA
Ayu Ardiyanti Rifai
Hakikat Bahasa dan Asal Usul Bahasa
Bahasa adalah sesuatu yang melekat dalam kehidupan manusia, ada manusia berarti juga ada bahasa. Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan manusia dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat tutur. Setiap kelompok masyarakat yang berbudaya pasti mempunyai bahasanya sendiri untuk berkomunikasi dengan kelompoknya.
Ilmu linguistik mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan tersusun secara sistematis. Lambang-lambang yang digunakan sebagai bahasa tersebut harus bisa didengar dan diucapkan. Setiap lambang bahasa mempunyai makna tertentu, dan lambang-lambang tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi antar manusia. Fungsi bahasa yang utama dari segi sosial adalah sebagai alat interaksi sosial dalam masyarakat dan sebagai alat komunikasi bagi manusia.
Apabila bahasa itu ada, pasti ada asal-usulnya. Banyak teori yang dilontarkan para pakar mengenai asal-usul bahasa, beberapa diantaranya adalah :
1. F.B. Condillac yang berpendapat bahwa bahasa berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh emosi atau perasaan yang kuat, kemudian teriakan-teriakan itu berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna dan lama kelamaan menjadi panjang dan rumit.
2. Pakar lain yang mengemukakannya adalah Von Herder, dalam teorinya mengatakan bahwa bahasa terjadi dari proses onomatope, yaitu peniruan bunyi alam. Bunyi-bunyi alam yang ditiru itu sebagai akibat dari dorongan hati yang sangat kuat untuk berkomunikasi.
3. Von Schlegel berpendapat berbeda tentang asal-usul pembentukan bahasa, menurutnya bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungkin bersumber dari satu bahasa. Asal-usul bahasa bergantung pada faktor-faktor pembentuknya, ada bahasa yang lahir dari onomatope, ada yang lahir dari kesadaran manusia. Pada dasarnya, menurut Von Schlegel bahasa menjadi sempurna karena akal manusia.
4. Menurut Brooks, bahasa lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia, bahasa lahir bersamaan dengan kelahiran kebudayaan manusia. Dalam hipotesisnya, Brooks mengatakan bahwa pada mulanya bahasa berbentuk bunyi-bunyi tetap yang merupakan simbol bagi benda, hal, dan kejadian yang mempunyai kedekatan makna dengan bunyi-bunyi tersebut, sejak awal bahasa pastilah merupakan suatu struktur yang terdiri dari bunyi, keteraturan, bentuk , dan pilihan.
5. Philip Lieberman mengemukakan teori bahwa bahasa lahir secara evolusi, menurut Liebermen, semua hukum evolusi Darwin telah berlaku dan dilaui juga oleh evolusi bahasa.
(Abdul Chaer,2003:31-32)
Teori apapun yang dikemukakan oleh para pakar tersebut, menunjukkan bahwa manusia membutuhkan bahasa untuk membangun kebudayaan, untuk memberikan makna pada dunia dimana manusia hidup. Manusia, bahasa dan kebudayaan saling bergantung dan berhubungan satu sama lain.
Hubungan Bahasa dan Kebudayaan
Bahasa dan kebudayaan manusia mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Bahasa merupakan cerminan dari kebudayaan suatu masyarakat, ketika mengkaji kebudayaan suatu daerah, pasti akan dikaji pula kebahasaannya. Setiap bahasa dari suatu masyarakat telah mendirikan satu kebudayaan tersendiri untuk penuturnya.
Raja Ali Haji, seorang pengarang terkenal abad ke-19, penulis Gurindam Dua Belas, juga mempunyai pendapat yang sama tentang hubungan bahasa dan kebudayaan. Hal tersebut tampak pada Gurindam pasal lima yang ditulisnya, yaitu “jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasanya”, artinya bahwa kebudayaan suatu bangsa akan terlihat dari bahasa yang digunakannya.
Hubungan erat antara bahasa dan kebudayaan suatu bangsa juga disebut-sebut dalam peribahasa, antara lain berbunyi “Bahasa dan bangsa itu tidak dijual atau dibeli” artinya bahwa orang yang berbangsa dan berbudaya adalah orang-orang yang selalu memperbaiki budi bahasanya. Peribahasa lain menyebutkan “Bahasa menunjukkan bangsa” yang berarti bahwa bahasa menunjukkan sifat dan kebudayaan seseorang.
Setiap kebudayaan pasti terdapat bahasa yang memberikan ciri khas dan merupakan cerminan bagi masyarakatnya. Jumlah bahasa di dunia pasti sama dengan jumlah kebudayaan masyarakat di dunia. Bahasa adalah keragaman, tapi bahasa juga persatuan, maksudnya meskipun bahasa di dunia ini beragam, tapi dengan bahasa pula manusia bisa berinteraksi dan berkomunikasi.
Kekuatan Bahasa
Bahasa hadir untuk memberikan makna pada dunia. Dunia tanpa bahasa akan menjadi hening dan diam, tidak akan tercipta kehidupan dan kebudayaan, karena tak ada reaksi dan tak ada gerakan sehingga tidak akan menghasilkan apapun. Tanpa bahasa manusia tidak akan bisa menyampaikan atau mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya, sehingga semua ide dan gagasan tidak akan akan pernah terungkap, padahal semua ilmu pengetahuan di dunia ini berasal dari pemikiran, ide dan gagasan manusia.
Manusia hanya punya satu alat dalam menjalankan tugasnya sebagai manusia, alat tersebut adalah bahasa. Bahasa mampu mewujudkan sesuatu yang abstrak dari pikiran manusia menjadi sesuatu yang nyata dan konkret, yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahasa mempunyai kekuatan yang mampu mewujudkan apapun keinginan manusia. Kekuatan bahasa mampu menciptakan kasih sayang antar manusia, mampu membuat manusia bahagia, mampu menciptakan kesedihan, bahkan mampu menciptakan perang.
Diantara semua simbol yang ada di dunia, bahasa adalah simbol yang paling rumit, halus, dan selalu berkembang. Manusia sudah sepakat untuk saling bergantung satu sama lain dengan menggunakan bahasa, maksudnya bahwa bahasa dijadikan alat interaksi dan komunikasi sosial bagi manusia. Penggunaan bahasa merupakan kesadaran kolektif masyarakat tutur. Bahasa digunakan dalam tuturan/ujaran dan tulisan dengan wujud yang bervariasi dalam bentuk maupun nuansa makna.
Pendapat yang mengatakan bahwa bahasa adalah sesuatu yang mudah adalah pendapat yang salah. Bahasa adalah simbol/lambang yang rumit dan untuk bisa menguasainya manusia harus menggulati pengetahuan bahasa yang begitu banyak dan luas. Kebanyakan manusia sudah lupa dengan kekuatan bahasa, manusia zaman sekarang lebih percaya pada pengetahuan dan pengalaman, padahal tanpa adanya bahasa, hal tersebut hanya akan menjadi sesuatu yang abstrak dan tanpa makna. Bahasa menjadikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam diri manusia menjadi nyata, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Bahasa Bagi Manusia
Bahasa adalah sebuah keajaiban, yang mampu menghasilkan dan menyebabkan apapun di dunia ini. Bahasa adalah dari manusia dan untuk manusia, bagian dari manusia dan merupakan bagian dari perbuatan tingkah laku manusia.
Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan perasan-perasaan batin manusia. Perasaan senang, sedih, marah, kecewa, kagum dapat diungkapkan dengan bahasa. Bahasa bisa menyebabkan manusia menjadi menangis atau tertawa.
Ide , gagasan, dan pemikiran manusia bisa terungkap menjadi sesuatu yang konkret dengan menggunakan bahasa. Dengan demikian, ide, gagasan, dan pemikiran tersebut bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Selain itu, bahasa juga digunakan untuk menyampaikan semua ilmu pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan manusia.
Penggunaan bahasa salah satunya adalah untuk menjelaskan suatu benda, hal, perkara dan keadaan, sehingga manusia akan memahami segala aspek kehidupan dan alam sekitarnya. Semua bentuk karya sastra yang fungsinya menghibur, menyenangkan, dan memuaskan batin manusia juga menggunakan bahasa. Dengan bahasa pula seorang manusia bisa mempengaruhi manusia yang lain untuk mengikuti keinginannya.
Jangan Meremehkan Bahasa
Semua uraian di atas menunjukkan bahwa bahasa adalah salah satu hal yang selalu melekat dengan kehidupan manusia, selalu dekat dengan aspek kehidupan manusia, sehingga menjadi hal yang paling penting bagi manusia. Bahasa memiliki kekuatan yang mampu menjalankan dunia dan memberikan makna pada dunia. Bahasa adalah sesuatu yang hidup, selalu berkembang mengikuti masyarakat petutur. Manusia akan menjadi hampa tanpa bahasa.
Sebuah pertikaian/konflik bisa diselesaikan dengan bahasa, misalnya konflik GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang pernah dialami bangsa Indonesia, bisa terselesaikan dengan adanya perundingan dan perjanjian yang tentu saja menggunakan bahasa, secara lisan dan tulisan. Sebaliknya, bahasa bisa digunakan untuk menyakiti orang lain, contohnya bahasa tersebut digunakan untuk membicarakan keburukan orang lain. Ketika seseorang menggunakan bahasa untuk memuji kebaikan orang lain, maka bahasa bisa menjadi hal yang membahagiakan. Contoh lain bahasa yang bisa membahagiakan manusia adalah larik-larik bahasa yang diberi nada atau yang biasa disebut dengan lagu/nyanyian.
Kehidupan keagamaan manusia juga tidak lepas dari bahasa, semua wahyu, ajaran, perintah, dan larangan disampaikan melalui bahasa. Tanpa bahasa, manusia tidak akan memahami dan mengerti semua hal tersebut. Manusia bisa berkomunikasi dengan Penciptanya juga dengan bahasa, ketika seseorang berdoa, maka dia menyampaikannya dengan bahasa. Ketika seorang muslim melakukan sholat, maka di dalam setiap gerakan juga menggunakan bahasa.
Bahasa adalah sesuatu yang ajaib. Bahasa yang terbentuk dari lambang-lambang bunyi yang mempunyai makna dan tersusun secara sistematis tersebut, mampu melakukan apapun untuk manusia dan dunia yang ditinggalinya. Fenomena bahasa adalah fenomena yang tidak pernah mati, karena bahasa selalu berkembang dan berubah. Penelitian dan pergulatan untuk mempelajari bahasa juga tidak akan pernah berhenti, karena selalu akan ada perubahan dan perkembangan dalam ilmu bahasa dan kebahasaan.
Manusia yang meremehkan penggunaan bahasanya, berarti dia juga meremehkan kehidupannya dan meremehkan lingkungan sekitarnya. Bahasa adalah aturan, dalam pemakainnya juga terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi. Ketika aturan-aturan itu dilanggar, maka bisa menyebabkan kesalahpahaman dalam memaknai suatu perkataan atau suatu tulisan.
Bahasa itu unik dan kreatif, maksudnya bahwa bahasa mampu melahirkan sistem bahasa yang berbeda pada setiap kelompok masyarakat, bahasa memberikan identitas sosial bagi suatu kelompok masyarakat. Dengan bahasa, memungkinkan manusia menyusun sebanyak mungkin kalimat yang berbeda untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa adalah sesuatu yang universal, meskipun bahasa di dunia ini beragam, tapi bahasa mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu setiap bahasa dihasilkan dari bunyi, dan setiap bahasa pasti tersusun secara sistematis, meskipun sistem setiap kelompok masyarakat tutur berbeda satu sama lain. Bahasa juga merupakan kesepakatan antar pemakainya, setiap manusia pasti sepakat menggunakan bahasa utnuk berinteraksi dan bekomunikasi satu sama lain. Kesepakatan itu tidak akan pernah mati atau hilang.
Keajaiban dan kekuatan di balik bahasa memberikan makna dalam kehidupan manusia, memberikan warna pada perjalanan hidup manusia. Bahasa mampu melakukan apapun yang diinginkan manusia. Semua ide, gagasan, dan pemikiran manusia bisa diwujudkan menjadi nyata dan bermakna hanya dengan bahasa. Bahasa adalah kebutuhan manusia yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan dan bahasa adalah kebudayaan manusia.
3/6/08
Ayu Ardiyanti Rifai
Hakikat Bahasa dan Asal Usul Bahasa
Bahasa adalah sesuatu yang melekat dalam kehidupan manusia, ada manusia berarti juga ada bahasa. Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan manusia dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat tutur. Setiap kelompok masyarakat yang berbudaya pasti mempunyai bahasanya sendiri untuk berkomunikasi dengan kelompoknya.
Ilmu linguistik mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan tersusun secara sistematis. Lambang-lambang yang digunakan sebagai bahasa tersebut harus bisa didengar dan diucapkan. Setiap lambang bahasa mempunyai makna tertentu, dan lambang-lambang tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi antar manusia. Fungsi bahasa yang utama dari segi sosial adalah sebagai alat interaksi sosial dalam masyarakat dan sebagai alat komunikasi bagi manusia.
Apabila bahasa itu ada, pasti ada asal-usulnya. Banyak teori yang dilontarkan para pakar mengenai asal-usul bahasa, beberapa diantaranya adalah :
1. F.B. Condillac yang berpendapat bahwa bahasa berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh emosi atau perasaan yang kuat, kemudian teriakan-teriakan itu berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna dan lama kelamaan menjadi panjang dan rumit.
2. Pakar lain yang mengemukakannya adalah Von Herder, dalam teorinya mengatakan bahwa bahasa terjadi dari proses onomatope, yaitu peniruan bunyi alam. Bunyi-bunyi alam yang ditiru itu sebagai akibat dari dorongan hati yang sangat kuat untuk berkomunikasi.
3. Von Schlegel berpendapat berbeda tentang asal-usul pembentukan bahasa, menurutnya bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungkin bersumber dari satu bahasa. Asal-usul bahasa bergantung pada faktor-faktor pembentuknya, ada bahasa yang lahir dari onomatope, ada yang lahir dari kesadaran manusia. Pada dasarnya, menurut Von Schlegel bahasa menjadi sempurna karena akal manusia.
4. Menurut Brooks, bahasa lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia, bahasa lahir bersamaan dengan kelahiran kebudayaan manusia. Dalam hipotesisnya, Brooks mengatakan bahwa pada mulanya bahasa berbentuk bunyi-bunyi tetap yang merupakan simbol bagi benda, hal, dan kejadian yang mempunyai kedekatan makna dengan bunyi-bunyi tersebut, sejak awal bahasa pastilah merupakan suatu struktur yang terdiri dari bunyi, keteraturan, bentuk , dan pilihan.
5. Philip Lieberman mengemukakan teori bahwa bahasa lahir secara evolusi, menurut Liebermen, semua hukum evolusi Darwin telah berlaku dan dilaui juga oleh evolusi bahasa.
(Abdul Chaer,2003:31-32)
Teori apapun yang dikemukakan oleh para pakar tersebut, menunjukkan bahwa manusia membutuhkan bahasa untuk membangun kebudayaan, untuk memberikan makna pada dunia dimana manusia hidup. Manusia, bahasa dan kebudayaan saling bergantung dan berhubungan satu sama lain.
Hubungan Bahasa dan Kebudayaan
Bahasa dan kebudayaan manusia mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Bahasa merupakan cerminan dari kebudayaan suatu masyarakat, ketika mengkaji kebudayaan suatu daerah, pasti akan dikaji pula kebahasaannya. Setiap bahasa dari suatu masyarakat telah mendirikan satu kebudayaan tersendiri untuk penuturnya.
Raja Ali Haji, seorang pengarang terkenal abad ke-19, penulis Gurindam Dua Belas, juga mempunyai pendapat yang sama tentang hubungan bahasa dan kebudayaan. Hal tersebut tampak pada Gurindam pasal lima yang ditulisnya, yaitu “jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasanya”, artinya bahwa kebudayaan suatu bangsa akan terlihat dari bahasa yang digunakannya.
Hubungan erat antara bahasa dan kebudayaan suatu bangsa juga disebut-sebut dalam peribahasa, antara lain berbunyi “Bahasa dan bangsa itu tidak dijual atau dibeli” artinya bahwa orang yang berbangsa dan berbudaya adalah orang-orang yang selalu memperbaiki budi bahasanya. Peribahasa lain menyebutkan “Bahasa menunjukkan bangsa” yang berarti bahwa bahasa menunjukkan sifat dan kebudayaan seseorang.
Setiap kebudayaan pasti terdapat bahasa yang memberikan ciri khas dan merupakan cerminan bagi masyarakatnya. Jumlah bahasa di dunia pasti sama dengan jumlah kebudayaan masyarakat di dunia. Bahasa adalah keragaman, tapi bahasa juga persatuan, maksudnya meskipun bahasa di dunia ini beragam, tapi dengan bahasa pula manusia bisa berinteraksi dan berkomunikasi.
Kekuatan Bahasa
Bahasa hadir untuk memberikan makna pada dunia. Dunia tanpa bahasa akan menjadi hening dan diam, tidak akan tercipta kehidupan dan kebudayaan, karena tak ada reaksi dan tak ada gerakan sehingga tidak akan menghasilkan apapun. Tanpa bahasa manusia tidak akan bisa menyampaikan atau mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya, sehingga semua ide dan gagasan tidak akan akan pernah terungkap, padahal semua ilmu pengetahuan di dunia ini berasal dari pemikiran, ide dan gagasan manusia.
Manusia hanya punya satu alat dalam menjalankan tugasnya sebagai manusia, alat tersebut adalah bahasa. Bahasa mampu mewujudkan sesuatu yang abstrak dari pikiran manusia menjadi sesuatu yang nyata dan konkret, yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahasa mempunyai kekuatan yang mampu mewujudkan apapun keinginan manusia. Kekuatan bahasa mampu menciptakan kasih sayang antar manusia, mampu membuat manusia bahagia, mampu menciptakan kesedihan, bahkan mampu menciptakan perang.
Diantara semua simbol yang ada di dunia, bahasa adalah simbol yang paling rumit, halus, dan selalu berkembang. Manusia sudah sepakat untuk saling bergantung satu sama lain dengan menggunakan bahasa, maksudnya bahwa bahasa dijadikan alat interaksi dan komunikasi sosial bagi manusia. Penggunaan bahasa merupakan kesadaran kolektif masyarakat tutur. Bahasa digunakan dalam tuturan/ujaran dan tulisan dengan wujud yang bervariasi dalam bentuk maupun nuansa makna.
Pendapat yang mengatakan bahwa bahasa adalah sesuatu yang mudah adalah pendapat yang salah. Bahasa adalah simbol/lambang yang rumit dan untuk bisa menguasainya manusia harus menggulati pengetahuan bahasa yang begitu banyak dan luas. Kebanyakan manusia sudah lupa dengan kekuatan bahasa, manusia zaman sekarang lebih percaya pada pengetahuan dan pengalaman, padahal tanpa adanya bahasa, hal tersebut hanya akan menjadi sesuatu yang abstrak dan tanpa makna. Bahasa menjadikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam diri manusia menjadi nyata, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Bahasa Bagi Manusia
Bahasa adalah sebuah keajaiban, yang mampu menghasilkan dan menyebabkan apapun di dunia ini. Bahasa adalah dari manusia dan untuk manusia, bagian dari manusia dan merupakan bagian dari perbuatan tingkah laku manusia.
Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan perasan-perasaan batin manusia. Perasaan senang, sedih, marah, kecewa, kagum dapat diungkapkan dengan bahasa. Bahasa bisa menyebabkan manusia menjadi menangis atau tertawa.
Ide , gagasan, dan pemikiran manusia bisa terungkap menjadi sesuatu yang konkret dengan menggunakan bahasa. Dengan demikian, ide, gagasan, dan pemikiran tersebut bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Selain itu, bahasa juga digunakan untuk menyampaikan semua ilmu pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan manusia.
Penggunaan bahasa salah satunya adalah untuk menjelaskan suatu benda, hal, perkara dan keadaan, sehingga manusia akan memahami segala aspek kehidupan dan alam sekitarnya. Semua bentuk karya sastra yang fungsinya menghibur, menyenangkan, dan memuaskan batin manusia juga menggunakan bahasa. Dengan bahasa pula seorang manusia bisa mempengaruhi manusia yang lain untuk mengikuti keinginannya.
Jangan Meremehkan Bahasa
Semua uraian di atas menunjukkan bahwa bahasa adalah salah satu hal yang selalu melekat dengan kehidupan manusia, selalu dekat dengan aspek kehidupan manusia, sehingga menjadi hal yang paling penting bagi manusia. Bahasa memiliki kekuatan yang mampu menjalankan dunia dan memberikan makna pada dunia. Bahasa adalah sesuatu yang hidup, selalu berkembang mengikuti masyarakat petutur. Manusia akan menjadi hampa tanpa bahasa.
Sebuah pertikaian/konflik bisa diselesaikan dengan bahasa, misalnya konflik GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang pernah dialami bangsa Indonesia, bisa terselesaikan dengan adanya perundingan dan perjanjian yang tentu saja menggunakan bahasa, secara lisan dan tulisan. Sebaliknya, bahasa bisa digunakan untuk menyakiti orang lain, contohnya bahasa tersebut digunakan untuk membicarakan keburukan orang lain. Ketika seseorang menggunakan bahasa untuk memuji kebaikan orang lain, maka bahasa bisa menjadi hal yang membahagiakan. Contoh lain bahasa yang bisa membahagiakan manusia adalah larik-larik bahasa yang diberi nada atau yang biasa disebut dengan lagu/nyanyian.
Kehidupan keagamaan manusia juga tidak lepas dari bahasa, semua wahyu, ajaran, perintah, dan larangan disampaikan melalui bahasa. Tanpa bahasa, manusia tidak akan memahami dan mengerti semua hal tersebut. Manusia bisa berkomunikasi dengan Penciptanya juga dengan bahasa, ketika seseorang berdoa, maka dia menyampaikannya dengan bahasa. Ketika seorang muslim melakukan sholat, maka di dalam setiap gerakan juga menggunakan bahasa.
Bahasa adalah sesuatu yang ajaib. Bahasa yang terbentuk dari lambang-lambang bunyi yang mempunyai makna dan tersusun secara sistematis tersebut, mampu melakukan apapun untuk manusia dan dunia yang ditinggalinya. Fenomena bahasa adalah fenomena yang tidak pernah mati, karena bahasa selalu berkembang dan berubah. Penelitian dan pergulatan untuk mempelajari bahasa juga tidak akan pernah berhenti, karena selalu akan ada perubahan dan perkembangan dalam ilmu bahasa dan kebahasaan.
Manusia yang meremehkan penggunaan bahasanya, berarti dia juga meremehkan kehidupannya dan meremehkan lingkungan sekitarnya. Bahasa adalah aturan, dalam pemakainnya juga terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi. Ketika aturan-aturan itu dilanggar, maka bisa menyebabkan kesalahpahaman dalam memaknai suatu perkataan atau suatu tulisan.
Bahasa itu unik dan kreatif, maksudnya bahwa bahasa mampu melahirkan sistem bahasa yang berbeda pada setiap kelompok masyarakat, bahasa memberikan identitas sosial bagi suatu kelompok masyarakat. Dengan bahasa, memungkinkan manusia menyusun sebanyak mungkin kalimat yang berbeda untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa adalah sesuatu yang universal, meskipun bahasa di dunia ini beragam, tapi bahasa mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu setiap bahasa dihasilkan dari bunyi, dan setiap bahasa pasti tersusun secara sistematis, meskipun sistem setiap kelompok masyarakat tutur berbeda satu sama lain. Bahasa juga merupakan kesepakatan antar pemakainya, setiap manusia pasti sepakat menggunakan bahasa utnuk berinteraksi dan bekomunikasi satu sama lain. Kesepakatan itu tidak akan pernah mati atau hilang.
Keajaiban dan kekuatan di balik bahasa memberikan makna dalam kehidupan manusia, memberikan warna pada perjalanan hidup manusia. Bahasa mampu melakukan apapun yang diinginkan manusia. Semua ide, gagasan, dan pemikiran manusia bisa diwujudkan menjadi nyata dan bermakna hanya dengan bahasa. Bahasa adalah kebutuhan manusia yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan dan bahasa adalah kebudayaan manusia.
3/6/08
Senin, 16 November 2009
Hasrat Untuk Berubah (The Willingness of Change)
ditulis oleh seorang Anglican Arch Bishop
ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia. seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil.
ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
tetapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.
dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari:
andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
mungkin aku dapat mengubah keluargaku.
lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.
kemudian siapa tahu,
aku bahkan dapat mengubah dunia.
ditulis oleh seorang Anglican Arch Bishop
ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia. seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil.
ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
tetapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.
dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari:
andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
mungkin aku dapat mengubah keluargaku.
lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.
kemudian siapa tahu,
aku bahkan dapat mengubah dunia.
Selasa, 03 November 2009
air sungai...
traveling, adventuring.....kegiatan-kegiatan seperti itu membuatku merasa bebas....menikmati bau tanah yang basah karena guyuran hujan, menikmati bau pohon-pohon pinus di hutan pinus...hmmmmm...tiada duanya....merasakan cahaya matahari di alam bebas membuat diriku merasa berharga...berjalan sendiri di jalanan becek, terpeleset, kena duri...ahhh tak peduli, bahkan lintah yang menempel di kulit tak kuperhatikan, biarkan saja mereka kenyang...toh nanti juga pergi sendiri, bahkan kabut yang datang ketika mulai senja hingga dini hari membuatku selalu berkontemplasi....ribuan bintang di langit yang kelam selalu menjadi bagian yang terfavorit...apalagi jika disertai gurauan teman-teman seperjalanan, dan bagian itu selalu kurindukan.
ada satu hal lagi yang menjadi perhatianku...sungai...ketika duduk di bebatuan...sendiri...mataku tak lepas memandang aliran sungai...dari hulu ke hilir, kuperhatikan cara air sungai itu melewati dinding-dinding kokoh bebatuan yang menghalangi alirannya...sangat elegan...dia tak pernah marah karena sang batu menghalangi jalannya, malahan dia begitu ramah ketika melewati sang batu yang terkenal keras itu...air tak pernah berusaha mengusik atau memindahkan posisi batu untuk melewatinya...tau apa air lakukan??? ya...dia dengan begitu tenang dan ramah mencari celah di sekitar keberadaan batu, kemudian dia melewatinya, dan sang batu juga tidak pernah berusaha menghalanginya...keduanya begitu saling menghargai, dengan situasi seperti itu setiap makhluk yang ada di sekitarnya menjadi bahagia.
traveling, adventuring.....kegiatan-kegiatan seperti itu membuatku merasa bebas....menikmati bau tanah yang basah karena guyuran hujan, menikmati bau pohon-pohon pinus di hutan pinus...hmmmmm...tiada duanya....merasakan cahaya matahari di alam bebas membuat diriku merasa berharga...berjalan sendiri di jalanan becek, terpeleset, kena duri...ahhh tak peduli, bahkan lintah yang menempel di kulit tak kuperhatikan, biarkan saja mereka kenyang...toh nanti juga pergi sendiri, bahkan kabut yang datang ketika mulai senja hingga dini hari membuatku selalu berkontemplasi....ribuan bintang di langit yang kelam selalu menjadi bagian yang terfavorit...apalagi jika disertai gurauan teman-teman seperjalanan, dan bagian itu selalu kurindukan.
ada satu hal lagi yang menjadi perhatianku...sungai...ketika duduk di bebatuan...sendiri...mataku tak lepas memandang aliran sungai...dari hulu ke hilir, kuperhatikan cara air sungai itu melewati dinding-dinding kokoh bebatuan yang menghalangi alirannya...sangat elegan...dia tak pernah marah karena sang batu menghalangi jalannya, malahan dia begitu ramah ketika melewati sang batu yang terkenal keras itu...air tak pernah berusaha mengusik atau memindahkan posisi batu untuk melewatinya...tau apa air lakukan??? ya...dia dengan begitu tenang dan ramah mencari celah di sekitar keberadaan batu, kemudian dia melewatinya, dan sang batu juga tidak pernah berusaha menghalanginya...keduanya begitu saling menghargai, dengan situasi seperti itu setiap makhluk yang ada di sekitarnya menjadi bahagia.
Kamis, 08 Oktober 2009
GUNUNG LAWU : SEKITAR MITOS DAN LEGENDA
Gunung Lawu berketinggian sekitar 3265 M di atas permukaan laut, terletak di
perbatasa propinsi Jawa Tengah – Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, dari kota
Solo ke arah timur sekitar 55 km, melewati wilayah Kabupaten Karanganyar.
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya :
Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat
sacral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat
pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat
pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga
Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai
ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan
ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan
setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi
folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa
sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa
tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau
siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.
Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu
atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan
untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan
bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Siapa Penguasa Gunung Lawu ?
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era
pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata
Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal
ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak
lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra
Pangeran Katong.
Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya
yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya
Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat
situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah
jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon
petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya
Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh
serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan
lagi.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia
Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya
naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang
umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai
abdi dalem yang setia dua orang umbul
itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah
mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi
itupun sampailan di puncak Harga Dalem. Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai
para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan
meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena
kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk
gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah
Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan ,
dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan
kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Suasana pun hening . Melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di
hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kpd Sang Prabu : Bagaimana
mungkin ini terjadi Sang Prabu ? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit
berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan
Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi
itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.
Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem , dan Sabdopalon
moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai
Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk
gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu
Brawijaya.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga
puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda, Kawah
Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi
Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan
adalah Pangeran Katong. Figur ini
dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga
masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.
http://www.karanganyar.go.id/featureLawu.htm
Gunung Lawu berketinggian sekitar 3265 M di atas permukaan laut, terletak di
perbatasa propinsi Jawa Tengah – Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, dari kota
Solo ke arah timur sekitar 55 km, melewati wilayah Kabupaten Karanganyar.
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya :
Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat
sacral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat
pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat
pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga
Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai
ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan
ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan
setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi
folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa
sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa
tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau
siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.
Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu
atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan
untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan
bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Siapa Penguasa Gunung Lawu ?
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era
pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata
Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal
ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak
lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra
Pangeran Katong.
Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya
yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya
Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat
situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah
jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon
petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya
Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh
serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan
lagi.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia
Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya
naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang
umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai
abdi dalem yang setia dua orang umbul
itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah
mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi
itupun sampailan di puncak Harga Dalem. Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai
para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan
meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena
kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk
gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah
Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan ,
dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan
kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Suasana pun hening . Melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di
hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kpd Sang Prabu : Bagaimana
mungkin ini terjadi Sang Prabu ? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit
berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan
Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi
itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.
Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem , dan Sabdopalon
moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai
Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk
gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu
Brawijaya.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga
puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda, Kawah
Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi
Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan
adalah Pangeran Katong. Figur ini
dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga
masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.
http://www.karanganyar.go.id/featureLawu.htm
Langganan:
Postingan (Atom)