GUNUNG LAWU : SEKITAR MITOS DAN LEGENDA
Gunung Lawu berketinggian sekitar 3265 M di atas permukaan laut, terletak di
perbatasa propinsi Jawa Tengah – Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, dari kota
Solo ke arah timur sekitar 55 km, melewati wilayah Kabupaten Karanganyar.
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya :
Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat
sacral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat
pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat
pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga
Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai
ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan
ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan
setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi
folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa
sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa
tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau
siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.
Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu
atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan
untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan
bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Siapa Penguasa Gunung Lawu ?
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era
pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata
Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal
ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak
lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra
Pangeran Katong.
Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya
yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya
Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat
situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah
jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon
petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya
Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh
serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan
lagi.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia
Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya
naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang
umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai
abdi dalem yang setia dua orang umbul
itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah
mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi
itupun sampailan di puncak Harga Dalem. Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai
para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan
meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena
kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk
gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah
Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan ,
dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan
kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Suasana pun hening . Melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di
hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kpd Sang Prabu : Bagaimana
mungkin ini terjadi Sang Prabu ? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit
berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan
Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi
itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.
Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem , dan Sabdopalon
moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai
Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk
gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu
Brawijaya.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga
puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda, Kawah
Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi
Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan
adalah Pangeran Katong. Figur ini
dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga
masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.
http://www.karanganyar.go.id/featureLawu.htm
Kamis, 08 Oktober 2009
Jumat, 21 Agustus 2009
INTERPRETASI KU....
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(w.s. rendra)
Kesadaran diri untuk berbuat lebih baik dan melakukan yang terbaik selayaknya matahari yang selalu memberikan cahaya kehidupan dan cahaya terang dalam menjalani peranan di dunia ini. Tidak cukup sadar saja, tapi kesabaran juga mengambil peran penting dalam kehidupan, kesabaran itu seperti bumi / ibu pertiwi yang tak pernah lelah ngemong anak-anaknya, memberi makan, tempat tinggal, dan memenuhi segala macam kebutuhan hidup anak-anaknya.
Hidup juga akan lebih lengkap jika punya keberanian, berani untuk jujur dan melangkah maju menatap masa depan, mewujudkan tujuan kehidupan. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan adalah berjuangan, karena perjuangan adalah wujud nyata / pelaksanaan dari setiap ucapan yang muncul dari mulut manusia, jika seseorang lalai berjuang, sama artinya dia tak berkata apapun (omong kosong).
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(w.s. rendra)
Kesadaran diri untuk berbuat lebih baik dan melakukan yang terbaik selayaknya matahari yang selalu memberikan cahaya kehidupan dan cahaya terang dalam menjalani peranan di dunia ini. Tidak cukup sadar saja, tapi kesabaran juga mengambil peran penting dalam kehidupan, kesabaran itu seperti bumi / ibu pertiwi yang tak pernah lelah ngemong anak-anaknya, memberi makan, tempat tinggal, dan memenuhi segala macam kebutuhan hidup anak-anaknya.
Hidup juga akan lebih lengkap jika punya keberanian, berani untuk jujur dan melangkah maju menatap masa depan, mewujudkan tujuan kehidupan. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan adalah berjuangan, karena perjuangan adalah wujud nyata / pelaksanaan dari setiap ucapan yang muncul dari mulut manusia, jika seseorang lalai berjuang, sama artinya dia tak berkata apapun (omong kosong).
Minggu, 16 Agustus 2009
Senin, 10 Agustus 2009
Sabtu, 01 Agustus 2009
Jumat, 17 Juli 2009
Kontemplasi Kontowijoyo Dalam
Makrifat Daun – Daun Makrifat
Ayu Ardiyanti Rifai
A. Kuntowijoyo dan Sastra Profetik
Karya sastra adalah kegiatan kreatif yang tidak cukup hanya berkhayal dan berimajinasi. Lebih dari itu karya sastra merupakan kaca cermin kehidupan manusia dengan berbagai macam konflik dan permasalahan. Sastra merupakan sebuah karya yang sarat dengan keindahan dan misteri, baik itu misteri bentuk maupun maknanya.
Sastrawan yang baik adalah seseorang yang berkarya dengan idealisme dan dedikasi tinggi untuk menyampaikan gagasan dan kreativitasnya, tidak hanya menggunakan imajinasi dan khayalan semata, namun juga mengikutsertakan hati nurani dalam kerja kreatifnya. Salah seorang penulis dan sejarahwan di Indonesia adalah Kuntowijoyo. Penulis kelahiran Yogyakarta 1944 itu banyak menuliskan karya sastra yang sarat dengan kontemplasi atau perenungan. Banyak karyanya yang merupakan gambaran keimanannya kepada Tuhan, seperti misalnya novel Khotbah di Atas Bukit (1976), antologi puisi Suluk Awang-Uwung (1976), dan antologi puisi Makrifat Daun-Daun Makrifat (1995).
Meskipun Kuntowijoyo banyak menuliskan karya yang bersinggungan dengan Tuhan, penulis tersebut tidak pernah menyebut dirinya sebagai penulis sufistik, Kuntowijoyo lebih suka menyebut karyanya sebagai sastra profetik. Sastra profetik merupakan karya sastra sufi yang dipandang masih relevan dengan dunia modern, berkenaan dengan kenabian (KBBI,1999:789). Sastra sufi merupakan sastra yang hanya bicara tentang Tuhan semata, sedangkan sastra profetik merupakan pengisahan hubungan Tuhan dan manusia, sekaligus peduli dengan hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan alam semesta, seperti tauladan yang diberikan Rasulullah dan para Nabi. Sastra profetik cenderung menggunakan alam sebagai bahan perenungan.
Seperti dalam salah satu karya Kuntowijoyo, antologi puisi Makrifat Daun-Daun Makrifat (1995). Kuntowijoyo menyampaikan pada kata pengantar pada antologi puisi tersebut bahwa sajak-sajak ini adalah sebuah pemberontakan, pemberontakan metafisik terhadap materialisme (Kuntowijoyo, 1995). Berdasarkan hal tersebut, sebelum membaca isi di dalamnya, pembaca bisa meraba-raba bahwa sajak-sajak yang tersaji merupakan sindiran terhadap manusia yang semakin hedonis. Melalui tulisannya itu, penulis melakukan pemberontakan halus terhadap keadaan yang seolah-olah telah melupakan Tuhan.
B. Antologi Puisi Makrifat Daun-Daun Makrifat
Antologi puisi Makrifat daun-Daun Makrifat terdiri dari lima judul sajak, yaitu Sajak-sajak yang Dimulai dengan Bait Al-Barzanji (hal 9), Storrs- New York, 1973-1974 (hal 17), Menjadi Saksi Pemogokan (hal 19), Aku Cemas Bumi Semakin Menyusut (hal 20), dan Pertentangan ialah Hukum Surgawi (hal 42). Antologi tersebut terdiri dari 61 halaman.
Satu-satunya sajak dalam antologi tersebut yang tidak mengungkapkan tentang religiusitas adalah sajak yang berjudul Menjadi Saksi Pemogokan. Sajak yang hanya terdiri dari dua bait dan tujuh baris tersebut, bisa diinterpretasikan sebagai penderitaan masyarakat kelas bawah atau para pekerja rendahan (buruh-buruh pabrik) karena banyak diperas tenaganya dengan kompensasi yang tidak sesuai, sehingga mereka harus berjuang menuntut hak-haknya yang kadang kala tidak diberikan. Berikut kutipannya.
(Menjadi saksi pemogokan)
Kusucikan waktu dengan kata
sehingga para pekerja
kembali ke pabrik
Aku tak pernah sangsi
kemerdekaan, tangan gaib semesta
mengalir lewat benang elektronik
dan kesadaran mulia
Antologi “Makrifat Daun-Daun Makrifat”, dimulai dengan sajak yang berjudul Sajak-sajak yang dimulai dengan Bait Al-Barzanji yang merupakan gambaran kecintaan Kuntowijoyo terhadap Rasulullah dengan menuliskan pujian-pujian bagi Rasul. Sajak tersebut terdiri dari tujuh sajak yang semuanya dimulai dengan puji-pujian kepada Rasul, sesuai dengan judulnya. Berikut kutipannya.
Ya, Allah. Taburkan wangian
di kubur Nabi yang Mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera
..............................
Hanya saja sebutan untuk Nabi Muhammad SAW yang diganti (lihat tulisan bergaris bawah). Pada sajak kedua diganti dengan Muhammad yang mulia, selanjutnya disimbolkan dengan Matahari yang mulia, sajak selanjutnya Purnama yang mulia, kemudian berturut-turut tertulis Cahaya yang mulia, Rasul yang mulias, dan Tercinta yang mulia.
Tidak hanya sekedar puji-pujian, tapi juga pengharapan penulis agar mampu ikhlas dan berserah diri secara sempurna pada Tuhan seperti tauladannya tersebut. Hal tersebut dapat ditemukan dalam kutipan di bawah ini.
Dengan ikhlas
kutanam pohon untuk burung
yang sanggup
memuji Tuhan dengan sempurna
.........................
Selain hal tersebut di atas, bagian sajak pertama dalam antologi “Makrifat Daun-Daun Makrifat” terdapat perenungan yang digambarkan dengan alam, seperti kutipan berikut.
Sesudah membuka pintu-pintu
Aku keluar menuju ladang
Dan di antara pohon kutemukan
Senyum, danau, dan ayat Tuhan
.............................
Penulis memainkan kata-kata dan berimajinasi dengan alam, karena melalui alam manusia bisa merasakan kebesaran Tuhan. Lihat saja baris ke-2, jika direnungi lebih dalam, pembaca akan menemukan makna bahwa dengan melihat ladang yang luas dan subur harusnya manusia sangat bersyukur dengan limpahan karunia dari Tuhan. Kata pohon dipilih karena merupakan sebuah perenungan tentang kerindangan yang mampu mengayomi manusia, manfaat yang diberikan berupa kayu, buah, maupun daunnya, bahkan pepohonan mampu menjaga dan melindungi manusia dari bencana alam seperti banjir, selain itu pohon juga sangat menikmati kehidupannya dengan bergerak mengikuti arah angin, tak melawan arus, namun tetap teguh dalam pendirian. Ketika pembaca terkontemplasi dengan kata pohon, maka akan ditemukan bahwa dengan melihat dan merenung tentang pohon manusia akan selalu tersenyum, menemukan kesejukan dan kesegaran dalam hidup (yang disimbolkan dengan danau), dan menemukan semua kebesaran dan kasih sayang Tuhan.
Sajak lain yang menggunakan alam adalah salah satu sajak dalam sajak (Aku cemas bumi semakin menyusut). Selain merenung melalui alam, Kuntowijoyo juga menggunakan bahasa warna, berikut kutipannya.
Bahkan kapal mencair di batas mimpi
karena pantai semakin jauh
Tetapi tidak Engkau
Subhnallah biru
Subhanallah ungu
Subhanallah rindu
Penulis memilih berkontemplasi melalui kapal yang berlayar karena ingin menyampaikan pemikirannya bahwa semua hal yang di dunia pasti akan menghilang, seperti kapal yang berlayar akhirnya akan menjauhi pantai dan menghilang. Namun Tuhan tidak akan pernah menghilang dan tidak akan pernah meninggalkan manusia bagaimanapun keadaannya. Kuntowijoyo juga menggunakan simbol warna dalam menyampiakan pemikirannya. Warna biru menyimbolkan ketenangan, kelembutan, kesenangan, kebaikan, sedangkan warna ungu melambangkan wibawa dan keagungan (Kinayati Djojosuroto, 2007:475,476). Makna dari simbol warna tersebut merupakan gambaran tentang sedikit kebesaran Tuhan karena didahului dengan kata Subhanallah yang berarti Maha Suci Allah. Baris terakhir dituliskan Subhanallah rindu, bermakna bahwa penulis merindukan semua sifat yang baik itu.
Dalam salah satu sajaknya yang terdapat pada sajak (Pertentangan ialah hukum surgawi), penulis menyampaikan pemikirannya tentang ancaman bagi manusia yang melupakan Tuhan, lagi-lagi penulis memilih alam sebagai bahan perenungan, seperti kutipan di bawah ini.
Suatu hari kutemukan
burung di sangkar termenung membungkam
aku bertanya dan dengan sedih dia mengatakan
Mereka yang melupakan Tuhan
tak berhak mendengar burung bernyanyi
Sajak tersebut merupakan sebuah ancaman bagi manusia yang melupakan keberadaan Tuhan. Pemilihan kata-kata burung di sangkar dengan interpretasi bahwa burung yang di dalam sangkar tidak bisa terbang kemanapun, waktunya banyak digunakan untuk mengamati manusia. Burung tersebut menjadi semakin sedih karena melihat pola hidup dan tingkah laku manusia yang semakin mendewakan duniawi dan melupakan keberadaan Tuhan. Lebih jelas lagi, pada baris terakhir bisa diinterpretasikan bahwa manusia tidak punya hak untuk menikmati semua kebesaran dan keindahan yang dimiliki Tuhan ketika manusia melupakan Tuhan.
C. Perenungan
Semua sajak dalam antologi puisi “Makrifat Daun-Daun Makrifat” banyak bersuara tentang mengingatkan manusia bahwa semua alam semesta, termasuk warna-warna adalah milik Tuhan. Sehingga manusia sudah selayaknya beriman dan bertaqwa pada Tuhan sesuai tuntunan, tauladan, dan ajaran yang dibawa para utusan-Nya.
Sesuai judulnya, “Makrifat Daun-Daun Makrifat” sajak-sajak yang tersaji mengenai atau berkaitan dengan pemikiran yang mendalam tentang Tuhan. Kata Makrifat berarti pengetahuan, tingkat penyerahan diri kepada Tuhan, yang setingkat demi setingkat sehingga sampai pada tingkat keyakinan yang kuat. Kata Daun secara leksikal berarti bagian dari tumbuhan yang berfungsi sebagai alat bernafas dan mengolah zat makanan, bisa dikatakan merupakan bagian hidup dari sebuah pohon.
Judul tersebut jika diinterpretasikan mempunyai pemaknaan bahwa melalui daun (menyimbolkan tentang kehidupan), manusia perlu untuk merenung, kemudian meningkatkan pengetahuan dan kecintaan kepada Tuhan sedikit demi sedikit sehingga mampu mencapai keyakinan yang kuat. Dengan mengamati alam semesta dan lingkungan sekitar, kemudian merenungi apa yang ada di baliknya, maka manusia akan menemukan Tuhan. Hal itulah yang ingin disampaikan Kuntowijoyo dalam antologi “Makrifat Daun-Daun Makrifat”.(ayu/09)
Makrifat Daun – Daun Makrifat
Ayu Ardiyanti Rifai
A. Kuntowijoyo dan Sastra Profetik
Karya sastra adalah kegiatan kreatif yang tidak cukup hanya berkhayal dan berimajinasi. Lebih dari itu karya sastra merupakan kaca cermin kehidupan manusia dengan berbagai macam konflik dan permasalahan. Sastra merupakan sebuah karya yang sarat dengan keindahan dan misteri, baik itu misteri bentuk maupun maknanya.
Sastrawan yang baik adalah seseorang yang berkarya dengan idealisme dan dedikasi tinggi untuk menyampaikan gagasan dan kreativitasnya, tidak hanya menggunakan imajinasi dan khayalan semata, namun juga mengikutsertakan hati nurani dalam kerja kreatifnya. Salah seorang penulis dan sejarahwan di Indonesia adalah Kuntowijoyo. Penulis kelahiran Yogyakarta 1944 itu banyak menuliskan karya sastra yang sarat dengan kontemplasi atau perenungan. Banyak karyanya yang merupakan gambaran keimanannya kepada Tuhan, seperti misalnya novel Khotbah di Atas Bukit (1976), antologi puisi Suluk Awang-Uwung (1976), dan antologi puisi Makrifat Daun-Daun Makrifat (1995).
Meskipun Kuntowijoyo banyak menuliskan karya yang bersinggungan dengan Tuhan, penulis tersebut tidak pernah menyebut dirinya sebagai penulis sufistik, Kuntowijoyo lebih suka menyebut karyanya sebagai sastra profetik. Sastra profetik merupakan karya sastra sufi yang dipandang masih relevan dengan dunia modern, berkenaan dengan kenabian (KBBI,1999:789). Sastra sufi merupakan sastra yang hanya bicara tentang Tuhan semata, sedangkan sastra profetik merupakan pengisahan hubungan Tuhan dan manusia, sekaligus peduli dengan hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan alam semesta, seperti tauladan yang diberikan Rasulullah dan para Nabi. Sastra profetik cenderung menggunakan alam sebagai bahan perenungan.
Seperti dalam salah satu karya Kuntowijoyo, antologi puisi Makrifat Daun-Daun Makrifat (1995). Kuntowijoyo menyampaikan pada kata pengantar pada antologi puisi tersebut bahwa sajak-sajak ini adalah sebuah pemberontakan, pemberontakan metafisik terhadap materialisme (Kuntowijoyo, 1995). Berdasarkan hal tersebut, sebelum membaca isi di dalamnya, pembaca bisa meraba-raba bahwa sajak-sajak yang tersaji merupakan sindiran terhadap manusia yang semakin hedonis. Melalui tulisannya itu, penulis melakukan pemberontakan halus terhadap keadaan yang seolah-olah telah melupakan Tuhan.
B. Antologi Puisi Makrifat Daun-Daun Makrifat
Antologi puisi Makrifat daun-Daun Makrifat terdiri dari lima judul sajak, yaitu Sajak-sajak yang Dimulai dengan Bait Al-Barzanji (hal 9), Storrs- New York, 1973-1974 (hal 17), Menjadi Saksi Pemogokan (hal 19), Aku Cemas Bumi Semakin Menyusut (hal 20), dan Pertentangan ialah Hukum Surgawi (hal 42). Antologi tersebut terdiri dari 61 halaman.
Satu-satunya sajak dalam antologi tersebut yang tidak mengungkapkan tentang religiusitas adalah sajak yang berjudul Menjadi Saksi Pemogokan. Sajak yang hanya terdiri dari dua bait dan tujuh baris tersebut, bisa diinterpretasikan sebagai penderitaan masyarakat kelas bawah atau para pekerja rendahan (buruh-buruh pabrik) karena banyak diperas tenaganya dengan kompensasi yang tidak sesuai, sehingga mereka harus berjuang menuntut hak-haknya yang kadang kala tidak diberikan. Berikut kutipannya.
(Menjadi saksi pemogokan)
Kusucikan waktu dengan kata
sehingga para pekerja
kembali ke pabrik
Aku tak pernah sangsi
kemerdekaan, tangan gaib semesta
mengalir lewat benang elektronik
dan kesadaran mulia
Antologi “Makrifat Daun-Daun Makrifat”, dimulai dengan sajak yang berjudul Sajak-sajak yang dimulai dengan Bait Al-Barzanji yang merupakan gambaran kecintaan Kuntowijoyo terhadap Rasulullah dengan menuliskan pujian-pujian bagi Rasul. Sajak tersebut terdiri dari tujuh sajak yang semuanya dimulai dengan puji-pujian kepada Rasul, sesuai dengan judulnya. Berikut kutipannya.
Ya, Allah. Taburkan wangian
di kubur Nabi yang Mulia
dengan semerbak salawat
dan salam sejahtera
..............................
Hanya saja sebutan untuk Nabi Muhammad SAW yang diganti (lihat tulisan bergaris bawah). Pada sajak kedua diganti dengan Muhammad yang mulia, selanjutnya disimbolkan dengan Matahari yang mulia, sajak selanjutnya Purnama yang mulia, kemudian berturut-turut tertulis Cahaya yang mulia, Rasul yang mulias, dan Tercinta yang mulia.
Tidak hanya sekedar puji-pujian, tapi juga pengharapan penulis agar mampu ikhlas dan berserah diri secara sempurna pada Tuhan seperti tauladannya tersebut. Hal tersebut dapat ditemukan dalam kutipan di bawah ini.
Dengan ikhlas
kutanam pohon untuk burung
yang sanggup
memuji Tuhan dengan sempurna
.........................
Selain hal tersebut di atas, bagian sajak pertama dalam antologi “Makrifat Daun-Daun Makrifat” terdapat perenungan yang digambarkan dengan alam, seperti kutipan berikut.
Sesudah membuka pintu-pintu
Aku keluar menuju ladang
Dan di antara pohon kutemukan
Senyum, danau, dan ayat Tuhan
.............................
Penulis memainkan kata-kata dan berimajinasi dengan alam, karena melalui alam manusia bisa merasakan kebesaran Tuhan. Lihat saja baris ke-2, jika direnungi lebih dalam, pembaca akan menemukan makna bahwa dengan melihat ladang yang luas dan subur harusnya manusia sangat bersyukur dengan limpahan karunia dari Tuhan. Kata pohon dipilih karena merupakan sebuah perenungan tentang kerindangan yang mampu mengayomi manusia, manfaat yang diberikan berupa kayu, buah, maupun daunnya, bahkan pepohonan mampu menjaga dan melindungi manusia dari bencana alam seperti banjir, selain itu pohon juga sangat menikmati kehidupannya dengan bergerak mengikuti arah angin, tak melawan arus, namun tetap teguh dalam pendirian. Ketika pembaca terkontemplasi dengan kata pohon, maka akan ditemukan bahwa dengan melihat dan merenung tentang pohon manusia akan selalu tersenyum, menemukan kesejukan dan kesegaran dalam hidup (yang disimbolkan dengan danau), dan menemukan semua kebesaran dan kasih sayang Tuhan.
Sajak lain yang menggunakan alam adalah salah satu sajak dalam sajak (Aku cemas bumi semakin menyusut). Selain merenung melalui alam, Kuntowijoyo juga menggunakan bahasa warna, berikut kutipannya.
Bahkan kapal mencair di batas mimpi
karena pantai semakin jauh
Tetapi tidak Engkau
Subhnallah biru
Subhanallah ungu
Subhanallah rindu
Penulis memilih berkontemplasi melalui kapal yang berlayar karena ingin menyampaikan pemikirannya bahwa semua hal yang di dunia pasti akan menghilang, seperti kapal yang berlayar akhirnya akan menjauhi pantai dan menghilang. Namun Tuhan tidak akan pernah menghilang dan tidak akan pernah meninggalkan manusia bagaimanapun keadaannya. Kuntowijoyo juga menggunakan simbol warna dalam menyampiakan pemikirannya. Warna biru menyimbolkan ketenangan, kelembutan, kesenangan, kebaikan, sedangkan warna ungu melambangkan wibawa dan keagungan (Kinayati Djojosuroto, 2007:475,476). Makna dari simbol warna tersebut merupakan gambaran tentang sedikit kebesaran Tuhan karena didahului dengan kata Subhanallah yang berarti Maha Suci Allah. Baris terakhir dituliskan Subhanallah rindu, bermakna bahwa penulis merindukan semua sifat yang baik itu.
Dalam salah satu sajaknya yang terdapat pada sajak (Pertentangan ialah hukum surgawi), penulis menyampaikan pemikirannya tentang ancaman bagi manusia yang melupakan Tuhan, lagi-lagi penulis memilih alam sebagai bahan perenungan, seperti kutipan di bawah ini.
Suatu hari kutemukan
burung di sangkar termenung membungkam
aku bertanya dan dengan sedih dia mengatakan
Mereka yang melupakan Tuhan
tak berhak mendengar burung bernyanyi
Sajak tersebut merupakan sebuah ancaman bagi manusia yang melupakan keberadaan Tuhan. Pemilihan kata-kata burung di sangkar dengan interpretasi bahwa burung yang di dalam sangkar tidak bisa terbang kemanapun, waktunya banyak digunakan untuk mengamati manusia. Burung tersebut menjadi semakin sedih karena melihat pola hidup dan tingkah laku manusia yang semakin mendewakan duniawi dan melupakan keberadaan Tuhan. Lebih jelas lagi, pada baris terakhir bisa diinterpretasikan bahwa manusia tidak punya hak untuk menikmati semua kebesaran dan keindahan yang dimiliki Tuhan ketika manusia melupakan Tuhan.
C. Perenungan
Semua sajak dalam antologi puisi “Makrifat Daun-Daun Makrifat” banyak bersuara tentang mengingatkan manusia bahwa semua alam semesta, termasuk warna-warna adalah milik Tuhan. Sehingga manusia sudah selayaknya beriman dan bertaqwa pada Tuhan sesuai tuntunan, tauladan, dan ajaran yang dibawa para utusan-Nya.
Sesuai judulnya, “Makrifat Daun-Daun Makrifat” sajak-sajak yang tersaji mengenai atau berkaitan dengan pemikiran yang mendalam tentang Tuhan. Kata Makrifat berarti pengetahuan, tingkat penyerahan diri kepada Tuhan, yang setingkat demi setingkat sehingga sampai pada tingkat keyakinan yang kuat. Kata Daun secara leksikal berarti bagian dari tumbuhan yang berfungsi sebagai alat bernafas dan mengolah zat makanan, bisa dikatakan merupakan bagian hidup dari sebuah pohon.
Judul tersebut jika diinterpretasikan mempunyai pemaknaan bahwa melalui daun (menyimbolkan tentang kehidupan), manusia perlu untuk merenung, kemudian meningkatkan pengetahuan dan kecintaan kepada Tuhan sedikit demi sedikit sehingga mampu mencapai keyakinan yang kuat. Dengan mengamati alam semesta dan lingkungan sekitar, kemudian merenungi apa yang ada di baliknya, maka manusia akan menemukan Tuhan. Hal itulah yang ingin disampaikan Kuntowijoyo dalam antologi “Makrifat Daun-Daun Makrifat”.(ayu/09)
Langganan:
Postingan (Atom)