KEAJAIBAN BAHASA
Ayu Ardiyanti Rifai
Hakikat Bahasa dan Asal Usul Bahasa
Bahasa adalah sesuatu yang melekat dalam kehidupan manusia, ada manusia berarti juga ada bahasa. Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan manusia dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat tutur. Setiap kelompok masyarakat yang berbudaya pasti mempunyai bahasanya sendiri untuk berkomunikasi dengan kelompoknya.
Ilmu linguistik mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan tersusun secara sistematis. Lambang-lambang yang digunakan sebagai bahasa tersebut harus bisa didengar dan diucapkan. Setiap lambang bahasa mempunyai makna tertentu, dan lambang-lambang tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi antar manusia. Fungsi bahasa yang utama dari segi sosial adalah sebagai alat interaksi sosial dalam masyarakat dan sebagai alat komunikasi bagi manusia.
Apabila bahasa itu ada, pasti ada asal-usulnya. Banyak teori yang dilontarkan para pakar mengenai asal-usul bahasa, beberapa diantaranya adalah :
1. F.B. Condillac yang berpendapat bahwa bahasa berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh emosi atau perasaan yang kuat, kemudian teriakan-teriakan itu berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna dan lama kelamaan menjadi panjang dan rumit.
2. Pakar lain yang mengemukakannya adalah Von Herder, dalam teorinya mengatakan bahwa bahasa terjadi dari proses onomatope, yaitu peniruan bunyi alam. Bunyi-bunyi alam yang ditiru itu sebagai akibat dari dorongan hati yang sangat kuat untuk berkomunikasi.
3. Von Schlegel berpendapat berbeda tentang asal-usul pembentukan bahasa, menurutnya bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungkin bersumber dari satu bahasa. Asal-usul bahasa bergantung pada faktor-faktor pembentuknya, ada bahasa yang lahir dari onomatope, ada yang lahir dari kesadaran manusia. Pada dasarnya, menurut Von Schlegel bahasa menjadi sempurna karena akal manusia.
4. Menurut Brooks, bahasa lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia, bahasa lahir bersamaan dengan kelahiran kebudayaan manusia. Dalam hipotesisnya, Brooks mengatakan bahwa pada mulanya bahasa berbentuk bunyi-bunyi tetap yang merupakan simbol bagi benda, hal, dan kejadian yang mempunyai kedekatan makna dengan bunyi-bunyi tersebut, sejak awal bahasa pastilah merupakan suatu struktur yang terdiri dari bunyi, keteraturan, bentuk , dan pilihan.
5. Philip Lieberman mengemukakan teori bahwa bahasa lahir secara evolusi, menurut Liebermen, semua hukum evolusi Darwin telah berlaku dan dilaui juga oleh evolusi bahasa.
(Abdul Chaer,2003:31-32)
Teori apapun yang dikemukakan oleh para pakar tersebut, menunjukkan bahwa manusia membutuhkan bahasa untuk membangun kebudayaan, untuk memberikan makna pada dunia dimana manusia hidup. Manusia, bahasa dan kebudayaan saling bergantung dan berhubungan satu sama lain.
Hubungan Bahasa dan Kebudayaan
Bahasa dan kebudayaan manusia mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Bahasa merupakan cerminan dari kebudayaan suatu masyarakat, ketika mengkaji kebudayaan suatu daerah, pasti akan dikaji pula kebahasaannya. Setiap bahasa dari suatu masyarakat telah mendirikan satu kebudayaan tersendiri untuk penuturnya.
Raja Ali Haji, seorang pengarang terkenal abad ke-19, penulis Gurindam Dua Belas, juga mempunyai pendapat yang sama tentang hubungan bahasa dan kebudayaan. Hal tersebut tampak pada Gurindam pasal lima yang ditulisnya, yaitu “jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasanya”, artinya bahwa kebudayaan suatu bangsa akan terlihat dari bahasa yang digunakannya.
Hubungan erat antara bahasa dan kebudayaan suatu bangsa juga disebut-sebut dalam peribahasa, antara lain berbunyi “Bahasa dan bangsa itu tidak dijual atau dibeli” artinya bahwa orang yang berbangsa dan berbudaya adalah orang-orang yang selalu memperbaiki budi bahasanya. Peribahasa lain menyebutkan “Bahasa menunjukkan bangsa” yang berarti bahwa bahasa menunjukkan sifat dan kebudayaan seseorang.
Setiap kebudayaan pasti terdapat bahasa yang memberikan ciri khas dan merupakan cerminan bagi masyarakatnya. Jumlah bahasa di dunia pasti sama dengan jumlah kebudayaan masyarakat di dunia. Bahasa adalah keragaman, tapi bahasa juga persatuan, maksudnya meskipun bahasa di dunia ini beragam, tapi dengan bahasa pula manusia bisa berinteraksi dan berkomunikasi.
Kekuatan Bahasa
Bahasa hadir untuk memberikan makna pada dunia. Dunia tanpa bahasa akan menjadi hening dan diam, tidak akan tercipta kehidupan dan kebudayaan, karena tak ada reaksi dan tak ada gerakan sehingga tidak akan menghasilkan apapun. Tanpa bahasa manusia tidak akan bisa menyampaikan atau mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan pikirannya, sehingga semua ide dan gagasan tidak akan akan pernah terungkap, padahal semua ilmu pengetahuan di dunia ini berasal dari pemikiran, ide dan gagasan manusia.
Manusia hanya punya satu alat dalam menjalankan tugasnya sebagai manusia, alat tersebut adalah bahasa. Bahasa mampu mewujudkan sesuatu yang abstrak dari pikiran manusia menjadi sesuatu yang nyata dan konkret, yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahasa mempunyai kekuatan yang mampu mewujudkan apapun keinginan manusia. Kekuatan bahasa mampu menciptakan kasih sayang antar manusia, mampu membuat manusia bahagia, mampu menciptakan kesedihan, bahkan mampu menciptakan perang.
Diantara semua simbol yang ada di dunia, bahasa adalah simbol yang paling rumit, halus, dan selalu berkembang. Manusia sudah sepakat untuk saling bergantung satu sama lain dengan menggunakan bahasa, maksudnya bahwa bahasa dijadikan alat interaksi dan komunikasi sosial bagi manusia. Penggunaan bahasa merupakan kesadaran kolektif masyarakat tutur. Bahasa digunakan dalam tuturan/ujaran dan tulisan dengan wujud yang bervariasi dalam bentuk maupun nuansa makna.
Pendapat yang mengatakan bahwa bahasa adalah sesuatu yang mudah adalah pendapat yang salah. Bahasa adalah simbol/lambang yang rumit dan untuk bisa menguasainya manusia harus menggulati pengetahuan bahasa yang begitu banyak dan luas. Kebanyakan manusia sudah lupa dengan kekuatan bahasa, manusia zaman sekarang lebih percaya pada pengetahuan dan pengalaman, padahal tanpa adanya bahasa, hal tersebut hanya akan menjadi sesuatu yang abstrak dan tanpa makna. Bahasa menjadikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam diri manusia menjadi nyata, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Bahasa Bagi Manusia
Bahasa adalah sebuah keajaiban, yang mampu menghasilkan dan menyebabkan apapun di dunia ini. Bahasa adalah dari manusia dan untuk manusia, bagian dari manusia dan merupakan bagian dari perbuatan tingkah laku manusia.
Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan perasan-perasaan batin manusia. Perasaan senang, sedih, marah, kecewa, kagum dapat diungkapkan dengan bahasa. Bahasa bisa menyebabkan manusia menjadi menangis atau tertawa.
Ide , gagasan, dan pemikiran manusia bisa terungkap menjadi sesuatu yang konkret dengan menggunakan bahasa. Dengan demikian, ide, gagasan, dan pemikiran tersebut bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Selain itu, bahasa juga digunakan untuk menyampaikan semua ilmu pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan manusia.
Penggunaan bahasa salah satunya adalah untuk menjelaskan suatu benda, hal, perkara dan keadaan, sehingga manusia akan memahami segala aspek kehidupan dan alam sekitarnya. Semua bentuk karya sastra yang fungsinya menghibur, menyenangkan, dan memuaskan batin manusia juga menggunakan bahasa. Dengan bahasa pula seorang manusia bisa mempengaruhi manusia yang lain untuk mengikuti keinginannya.
Jangan Meremehkan Bahasa
Semua uraian di atas menunjukkan bahwa bahasa adalah salah satu hal yang selalu melekat dengan kehidupan manusia, selalu dekat dengan aspek kehidupan manusia, sehingga menjadi hal yang paling penting bagi manusia. Bahasa memiliki kekuatan yang mampu menjalankan dunia dan memberikan makna pada dunia. Bahasa adalah sesuatu yang hidup, selalu berkembang mengikuti masyarakat petutur. Manusia akan menjadi hampa tanpa bahasa.
Sebuah pertikaian/konflik bisa diselesaikan dengan bahasa, misalnya konflik GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang pernah dialami bangsa Indonesia, bisa terselesaikan dengan adanya perundingan dan perjanjian yang tentu saja menggunakan bahasa, secara lisan dan tulisan. Sebaliknya, bahasa bisa digunakan untuk menyakiti orang lain, contohnya bahasa tersebut digunakan untuk membicarakan keburukan orang lain. Ketika seseorang menggunakan bahasa untuk memuji kebaikan orang lain, maka bahasa bisa menjadi hal yang membahagiakan. Contoh lain bahasa yang bisa membahagiakan manusia adalah larik-larik bahasa yang diberi nada atau yang biasa disebut dengan lagu/nyanyian.
Kehidupan keagamaan manusia juga tidak lepas dari bahasa, semua wahyu, ajaran, perintah, dan larangan disampaikan melalui bahasa. Tanpa bahasa, manusia tidak akan memahami dan mengerti semua hal tersebut. Manusia bisa berkomunikasi dengan Penciptanya juga dengan bahasa, ketika seseorang berdoa, maka dia menyampaikannya dengan bahasa. Ketika seorang muslim melakukan sholat, maka di dalam setiap gerakan juga menggunakan bahasa.
Bahasa adalah sesuatu yang ajaib. Bahasa yang terbentuk dari lambang-lambang bunyi yang mempunyai makna dan tersusun secara sistematis tersebut, mampu melakukan apapun untuk manusia dan dunia yang ditinggalinya. Fenomena bahasa adalah fenomena yang tidak pernah mati, karena bahasa selalu berkembang dan berubah. Penelitian dan pergulatan untuk mempelajari bahasa juga tidak akan pernah berhenti, karena selalu akan ada perubahan dan perkembangan dalam ilmu bahasa dan kebahasaan.
Manusia yang meremehkan penggunaan bahasanya, berarti dia juga meremehkan kehidupannya dan meremehkan lingkungan sekitarnya. Bahasa adalah aturan, dalam pemakainnya juga terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi. Ketika aturan-aturan itu dilanggar, maka bisa menyebabkan kesalahpahaman dalam memaknai suatu perkataan atau suatu tulisan.
Bahasa itu unik dan kreatif, maksudnya bahwa bahasa mampu melahirkan sistem bahasa yang berbeda pada setiap kelompok masyarakat, bahasa memberikan identitas sosial bagi suatu kelompok masyarakat. Dengan bahasa, memungkinkan manusia menyusun sebanyak mungkin kalimat yang berbeda untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa adalah sesuatu yang universal, meskipun bahasa di dunia ini beragam, tapi bahasa mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu setiap bahasa dihasilkan dari bunyi, dan setiap bahasa pasti tersusun secara sistematis, meskipun sistem setiap kelompok masyarakat tutur berbeda satu sama lain. Bahasa juga merupakan kesepakatan antar pemakainya, setiap manusia pasti sepakat menggunakan bahasa utnuk berinteraksi dan bekomunikasi satu sama lain. Kesepakatan itu tidak akan pernah mati atau hilang.
Keajaiban dan kekuatan di balik bahasa memberikan makna dalam kehidupan manusia, memberikan warna pada perjalanan hidup manusia. Bahasa mampu melakukan apapun yang diinginkan manusia. Semua ide, gagasan, dan pemikiran manusia bisa diwujudkan menjadi nyata dan bermakna hanya dengan bahasa. Bahasa adalah kebutuhan manusia yang tidak akan pernah bisa ditinggalkan dan bahasa adalah kebudayaan manusia.
3/6/08
Sabtu, 05 Desember 2009
Senin, 16 November 2009
Hasrat Untuk Berubah (The Willingness of Change)
ditulis oleh seorang Anglican Arch Bishop
ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia. seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil.
ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
tetapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.
dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari:
andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
mungkin aku dapat mengubah keluargaku.
lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.
kemudian siapa tahu,
aku bahkan dapat mengubah dunia.
ditulis oleh seorang Anglican Arch Bishop
ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia. seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil.
ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
tetapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.
dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari:
andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
mungkin aku dapat mengubah keluargaku.
lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.
kemudian siapa tahu,
aku bahkan dapat mengubah dunia.
Selasa, 03 November 2009
air sungai...
traveling, adventuring.....kegiatan-kegiatan seperti itu membuatku merasa bebas....menikmati bau tanah yang basah karena guyuran hujan, menikmati bau pohon-pohon pinus di hutan pinus...hmmmmm...tiada duanya....merasakan cahaya matahari di alam bebas membuat diriku merasa berharga...berjalan sendiri di jalanan becek, terpeleset, kena duri...ahhh tak peduli, bahkan lintah yang menempel di kulit tak kuperhatikan, biarkan saja mereka kenyang...toh nanti juga pergi sendiri, bahkan kabut yang datang ketika mulai senja hingga dini hari membuatku selalu berkontemplasi....ribuan bintang di langit yang kelam selalu menjadi bagian yang terfavorit...apalagi jika disertai gurauan teman-teman seperjalanan, dan bagian itu selalu kurindukan.
ada satu hal lagi yang menjadi perhatianku...sungai...ketika duduk di bebatuan...sendiri...mataku tak lepas memandang aliran sungai...dari hulu ke hilir, kuperhatikan cara air sungai itu melewati dinding-dinding kokoh bebatuan yang menghalangi alirannya...sangat elegan...dia tak pernah marah karena sang batu menghalangi jalannya, malahan dia begitu ramah ketika melewati sang batu yang terkenal keras itu...air tak pernah berusaha mengusik atau memindahkan posisi batu untuk melewatinya...tau apa air lakukan??? ya...dia dengan begitu tenang dan ramah mencari celah di sekitar keberadaan batu, kemudian dia melewatinya, dan sang batu juga tidak pernah berusaha menghalanginya...keduanya begitu saling menghargai, dengan situasi seperti itu setiap makhluk yang ada di sekitarnya menjadi bahagia.
traveling, adventuring.....kegiatan-kegiatan seperti itu membuatku merasa bebas....menikmati bau tanah yang basah karena guyuran hujan, menikmati bau pohon-pohon pinus di hutan pinus...hmmmmm...tiada duanya....merasakan cahaya matahari di alam bebas membuat diriku merasa berharga...berjalan sendiri di jalanan becek, terpeleset, kena duri...ahhh tak peduli, bahkan lintah yang menempel di kulit tak kuperhatikan, biarkan saja mereka kenyang...toh nanti juga pergi sendiri, bahkan kabut yang datang ketika mulai senja hingga dini hari membuatku selalu berkontemplasi....ribuan bintang di langit yang kelam selalu menjadi bagian yang terfavorit...apalagi jika disertai gurauan teman-teman seperjalanan, dan bagian itu selalu kurindukan.
ada satu hal lagi yang menjadi perhatianku...sungai...ketika duduk di bebatuan...sendiri...mataku tak lepas memandang aliran sungai...dari hulu ke hilir, kuperhatikan cara air sungai itu melewati dinding-dinding kokoh bebatuan yang menghalangi alirannya...sangat elegan...dia tak pernah marah karena sang batu menghalangi jalannya, malahan dia begitu ramah ketika melewati sang batu yang terkenal keras itu...air tak pernah berusaha mengusik atau memindahkan posisi batu untuk melewatinya...tau apa air lakukan??? ya...dia dengan begitu tenang dan ramah mencari celah di sekitar keberadaan batu, kemudian dia melewatinya, dan sang batu juga tidak pernah berusaha menghalanginya...keduanya begitu saling menghargai, dengan situasi seperti itu setiap makhluk yang ada di sekitarnya menjadi bahagia.
Kamis, 08 Oktober 2009
GUNUNG LAWU : SEKITAR MITOS DAN LEGENDA
Gunung Lawu berketinggian sekitar 3265 M di atas permukaan laut, terletak di
perbatasa propinsi Jawa Tengah – Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, dari kota
Solo ke arah timur sekitar 55 km, melewati wilayah Kabupaten Karanganyar.
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya :
Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat
sacral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat
pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat
pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga
Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai
ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan
ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan
setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi
folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa
sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa
tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau
siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.
Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu
atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan
untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan
bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Siapa Penguasa Gunung Lawu ?
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era
pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata
Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal
ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak
lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra
Pangeran Katong.
Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya
yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya
Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat
situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah
jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon
petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya
Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh
serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan
lagi.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia
Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya
naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang
umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai
abdi dalem yang setia dua orang umbul
itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah
mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi
itupun sampailan di puncak Harga Dalem. Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai
para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan
meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena
kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk
gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah
Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan ,
dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan
kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Suasana pun hening . Melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di
hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kpd Sang Prabu : Bagaimana
mungkin ini terjadi Sang Prabu ? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit
berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan
Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi
itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.
Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem , dan Sabdopalon
moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai
Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk
gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu
Brawijaya.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga
puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda, Kawah
Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi
Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan
adalah Pangeran Katong. Figur ini
dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga
masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.
http://www.karanganyar.go.id/featureLawu.htm
Gunung Lawu berketinggian sekitar 3265 M di atas permukaan laut, terletak di
perbatasa propinsi Jawa Tengah – Jawa Timur. Untuk mencapai puncaknya, dari kota
Solo ke arah timur sekitar 55 km, melewati wilayah Kabupaten Karanganyar.
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya :
Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat
sacral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat
pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat
pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga
Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai
ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan
ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan
setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi
folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa
sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa
tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau
siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.
Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu
atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan
untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan
bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Siapa Penguasa Gunung Lawu ?
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era
pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata
Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal
ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak
lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra
Pangeran Katong.
Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya
yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya
Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat
situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah
jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon
petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya
Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh
serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan
lagi.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia
Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya
naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang
umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai
abdi dalem yang setia dua orang umbul
itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah
mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi
itupun sampailan di puncak Harga Dalem. Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai
para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan
meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena
kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk
gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah
Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan ,
dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan
kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Suasana pun hening . Melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di
hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kpd Sang Prabu : Bagaimana
mungkin ini terjadi Sang Prabu ? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit
berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan
Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi
itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.
Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem , dan Sabdopalon
moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai
Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk
gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu
Brawijaya.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga
puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sumur Jalatunda, Kawah
Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi
Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan
adalah Pangeran Katong. Figur ini
dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga
masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.
http://www.karanganyar.go.id/featureLawu.htm
Jumat, 21 Agustus 2009
INTERPRETASI KU....
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(w.s. rendra)
Kesadaran diri untuk berbuat lebih baik dan melakukan yang terbaik selayaknya matahari yang selalu memberikan cahaya kehidupan dan cahaya terang dalam menjalani peranan di dunia ini. Tidak cukup sadar saja, tapi kesabaran juga mengambil peran penting dalam kehidupan, kesabaran itu seperti bumi / ibu pertiwi yang tak pernah lelah ngemong anak-anaknya, memberi makan, tempat tinggal, dan memenuhi segala macam kebutuhan hidup anak-anaknya.
Hidup juga akan lebih lengkap jika punya keberanian, berani untuk jujur dan melangkah maju menatap masa depan, mewujudkan tujuan kehidupan. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan adalah berjuangan, karena perjuangan adalah wujud nyata / pelaksanaan dari setiap ucapan yang muncul dari mulut manusia, jika seseorang lalai berjuang, sama artinya dia tak berkata apapun (omong kosong).
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(w.s. rendra)
Kesadaran diri untuk berbuat lebih baik dan melakukan yang terbaik selayaknya matahari yang selalu memberikan cahaya kehidupan dan cahaya terang dalam menjalani peranan di dunia ini. Tidak cukup sadar saja, tapi kesabaran juga mengambil peran penting dalam kehidupan, kesabaran itu seperti bumi / ibu pertiwi yang tak pernah lelah ngemong anak-anaknya, memberi makan, tempat tinggal, dan memenuhi segala macam kebutuhan hidup anak-anaknya.
Hidup juga akan lebih lengkap jika punya keberanian, berani untuk jujur dan melangkah maju menatap masa depan, mewujudkan tujuan kehidupan. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan adalah berjuangan, karena perjuangan adalah wujud nyata / pelaksanaan dari setiap ucapan yang muncul dari mulut manusia, jika seseorang lalai berjuang, sama artinya dia tak berkata apapun (omong kosong).
Minggu, 16 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)